Kamis, 23 Maret 2017

Makalah Pijat Refleksi

Diposting oleh Unknown di 07.08 1 komentar
MAKALAH ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
PIJAT REFLEKSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu mata kuliah ISBD yang diampuh
oleh : Novi Indrayani SST, M.kes,.

Disusun Oleh;
Kelompok 3
Mustikawati                                                                14140     
Karnila                                                                        14140107
Mirnawati Wahyu Farida                                            16140002
Febiana Laluur                                                            16140004
Anggreni Inpa Jaka Mere                                            16140006
Maria Gabriella Yohana Putri G.                                16140008
Jessika Wahyu Febrianti                                             16140010
Fitriana Sindi                                                              16140012
Nur Fitriani                                                                 16140015
Ketut Ayu Wulantari                                                  16140018
Astika Diana Sari                                                        16140019
Ni Luh Gede Adnyasuari                                           16140023
Hemmy Setya Jati                                                       16140128

UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PRODI DIV BIDAN PENDIDIK
T.A 2016-2017



KATA PENGANTAR

Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. karena atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “MAKALAH ISBD tentang PIJAT REFLEKSI”. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Konsep Kebidanan Prodi D-IV Bidan Pendidik di Universitas Respati Yogyakarta.
Kedua, dalam penyusunan makalah ini kami mengucapkan terimakasih kepada :
Ibu Novi Indrayani SST, M.kes,. selaku dosen pengampu mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Semua pihak yang bekerjasama dalam penyusunan makalah ini
Kami menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini masih jauh dari kata sempurna, baik dalam segi pembahasan, penulisan dan penyusunan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari dosen pembimbing mata kuliah Konsep Kebidanan untuk menyempurnakan makalah ini.


Yogyakarta, 18 Maret 2017

                                 Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................             i
DAFTAR ISI ..........................................................................................................             ii
BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang................................................................................................             1
  2. Tujuan..............................................................................................................             1
  3. Manfaat...........................................................................................................             1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Definisi Pijat Refleksi...................................................................................             2
B.     Cara Kerja Pijat Refleks ..............................................................................             2
C.     Manfaat Pijat Refleksi Bagi Ibu Hamil........................................................             3
D.    Kerugian Pijat Refleksi Bagi Ibu Hamil.......................................................             3
E.  Panduan dalam Pijat Refleksi bagi Ibu Hamil..............................................             4
BAB 1II PENUTUP
  1. Kesimpulan......................................................................................................             5
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................             6
                   

  


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejak zaman purba manusia telah mengenal massage dengan berbagai macam ragam bentuk dan cara penggunaanya. Hal ini dapat diketahui dari peninggalan-peninggalan mereka yang berupa tulisan-tulisan atau benda-benda relief yang masih ada hingga saat ini.
Pengetahuan tentang massage tidak tercipta dari satu atau beberapa zaman atau hasil ciptaan beberapa orang, tetapi adalah hasil dari pengalaman pemikiran dan penelitian orang zaman ke zaman.
Pijatan atau yang lebih dikenal dengan massase ini memiliki beberapa jenis diantaranya massase untuk umum atau yang biasa kita lakukan, massase kecantikan yang biasanya ada di salon-salon kecantikan yang gunanya untuk merawat bagian tubuh agar terlihat lebih cantik dengan pijatan, dan yang kita bahas sekarang adalah massase olahraga (sport massase) yang biasa dilakukan pada atltit atau olahragawan.
Pijat jenis ini dilakukan terutama di bagian tubuh yang banyak bekerja dengan mempergunakan manipulasi pijatan shaking, tapotement, petressage, friction dan stretching. Massage bagi atlet dilakukan di antara pertandingan dengan tindakan yang diberikan saat istirahat di kamar ganti pakaian atau di bangku istirahat. Fokus pijatan adalah tungkai atas, tungkai bawah, bahu dan tangan kiri kanan.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari pijat refleksi?
2.      Bagaimana cara kerja pijat refleksi?
3.      Apa manfaat pijat refleksi bagi ibu hamil?
4.      Apa kerugian pijat refleksi bagi ibu hamil?
5.      Bagaimana panduan dalam pijat refleksi pada ibu hamil?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi pijat refleksi
2.      Untuk mengetahui cara kerja pijat refleksi
3.      Untuk mengetahui manfaat pijat refleksi bagi ibu hamil
4.      Untuk mengetahui kerugian pijat refleksi bagi ibu hamil
5.      Untuk mengetahui panduan dalam pijat refleksi bagi ibu hamil


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Pijat Refleksi
Pijat refleksi adalah suatu cara pengobatan penyakit melalui titik pusat urat syaraf yang bersangkutan (berhubungan) dengan organ-organ tubuh tertentu. Dengan kata lain adalah penyembuhan penyakit melalui pijat urat syaraf untuk memperlancar peredaran darah (Ruhito.F, Mahendra B : 2009).
Pijat refleksi merupakan ilmu yang mempelajari ilmu tetntang pijit di titik titik tubuh tertentu.Pada umumnya pengobatan ini sering dilakukan adalah untuk penyakit-penyakit yang sering dijumpai di kehidupan sehari-hari seperti penyakit jantung,sakit lambung(maag),penyakit kulit, patah tulang, batu ginjal, batu empedu, kencing batu, diabetes melitus, hipertensi dan sakit pinggang. (Wikipedia, 2017)
Adapun sejarah pijit refleksi,pijit refleksi adalah suatu bagian dari cara pengobatan china yang mulai dikenal dipraktekan sejak kurang lebih 5000 tahun yang lalu,pengetahuan ini bukanlah hasil ciptaan seseorang pada zaman melainkan merupakan pengalaman dari generasi ke generasi serta dari zaman ke zaman.
Refleksiologi berasal dari refleks yang artinya suatu gerak cepat yang tidak disengaja tanpa diperintah secara sadar oleh otak akan tetapi dalam refleksiologi,reflek adalah suatu reaksi automatis salah satu organ tubuh terhadap perangsangan.Sebagai contoh apabila reflek otot dari sendi siku kita pijat,maka secara automatis sendi siku tersebut akan bergerak melipat tanpa diperintah oleh otak.
B.     Cara Kerja Pijat Refleksi
Teori dasar pijat refleksi adalah bahwa ada titik-titik refleks tertentu pada tangan dan kaki yang "terkait" atau terkoneksi dengan organ-organ tertentu pada tubuh manusia. Dengan menekan pada titik-titik refleksi tersebut, maka akan merangsang dan meningkatkan aliran darah ke organ yang terkoneksi sehingga akan memberi efek positif terhadap kesehatan organ yang berhubungan.
Konsep tersebut mirip dengan prinsip yang digunakan dalam akupuntur, hanya saja pijat refleksi tidak menggunakan jarum, hanya penekanan dengan teknik tertentu. Menurut prinsip-prinsip pengobatan Cina tradisional, pijat refleksi efektif untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan.
Bolehkah ibu hamil pijat refleksi?
Pada dasarnya ibu hamil melakukan pijat tidak apa-apa, akan tetapi harus dilakukan dengan hati-hati. Yang perlu diingat adalah sebelum memutuskan untuk pijat sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan
Pada terapi pijat refleksi, daerah yang umumnya diberi perhatian adalah kaki. Jika sasarannya adalah kelenjar putuitari, maka pemijatan akan dilakukan pada jempol kaki.
Pijat refleksi kemudian akan menghasilkan sinyal, atau impuls, melalui sistem saraf tepi dan dikirim ke otak. Sinyal ini kemudian akan diteruskan ke berbagai organ sehingga aliran darah menjadi lebih lancar.
Aliran darah sangat penting perannya untuk memasok oksigen dan nutrisi ke sel-sel organ, serta untuk membuang zat-zat sisa metabolisme. Selama tiga bulan pertama kehamilan, hormon yang disebut Human Chorionic Gonadothropin (HCG), diproduksi oleh janin dan dapat membuat seorang ibu hamil merasa tidak nyaman.
Proses ini bisa membuat si ibu sangat tidak nyaman. Di saat-saat seperti itulah pijat refleksi bisa sangat membantu. Terapi pijat refleksi tidak hanya aman, tetapi justru akan menyeimbangkan produksi hormon dan sekaligus mengurangi rasa penat dan sakit sehingga si ibu akan merasa lebih baik.
Namun, walaupun pijat refleksi aman, sebagian besar terapis tidak akan mempraktekkannya pada 13 minggu pertama kehamilan pasiennya karena selama masa itu, ada resiko terjadi keguguran.
C.     Manfaat Pijat Refleksi Bagi Ibu Hamil
Manfaat utama pijat refleksi adalah untuk mengusir kelelahan dan ketegangan, membantu relaksasi serta mengatasi rasa sakit dan gejala lainnya, serta dapat melancarkan peredaran darah dan  membantu memelihara organ dalam sehingga menjadikan tubuh lebih terpelihara.
Adapun beberapa manfaat pijat refleksi pada ibu hamil :
1.      Mengoptimalkan kesehatan ibu hamil
Pada trimester II kehamilan seringkali ibu hamil mengalami keluhan kehamilan. Dengan melakukan terapi refleksiologi maka dapat membantu ibu hamil dalam mengatur fungsi kelenjar tiroid, melancarkan sirkulasi darah, mengatur metabolisme tubuh, memperkuat imunitas, memelihara keseimbangan fungsi tubuh.
2.      Mempersiapkan proses persalinan
3.      Melancarklan peredaran darah sehingga memberikan relaksasi pada urat dan saraf
4.      Melancarkan metabolisme tubuh. Pijat telapak kaki (refleksi) juga perlu diperhatikan karena ada saraf-saraf yang berhubungan dengan rahim.
D.    Kerugian dan efek Samping bagi Ibu Hamil
Belum ada bukti bahwa pijat refleksi tidak aman untuk ibu hamil . Namun harap diingat, memijat orang normal dan ibu hamil adalah sangat berbeda. sebaiknya menggunakan jasa terapis berpengalaman yang khusus tersertifikasi untuk ibu hamil. Terapis yang kurang berpengalaman mungkin saja akan menekan terlalu keras serta dapat memperparah pembengkakan yang sudah dialami akibat kehamilan.
E.     Panduan Pijat Refleksi pada Ibu Hamil
1.      Jangan pijat didaerah perut, pinggang, pinggul karena tiga bagian ini rentan berkontak langsung dengan janin dan dapat memicu kontraksi
2.      Jikat pijatan dirasa menimbulkan kontraksi apapun metode dan cara memijatnya segera dihentikan.
3.      Pijit sebaiknya dilakukan diusia 5 bulan keatas karena kondisi janin sudah jauh lebih baik/kuat.
4.      Pijit dilakukan dalam posisi ibu terlentang atau duduk dan pastikan kandungannya tidak bermasalah.
5.      Pastikan ibu mendapatkan jasa pijat oleh terapis/orang yang mengerti, terlatih, dan berpengalaman dalam memijat ibu hamil.

Tidak dianjurkan pada trimester pertama
Dalam tabloid Mom & Kidie, dr. Fakriantini Jaya Putri, SpOG dari Rumah Sakit Zahira menjelaskan, ibu hamil boleh-boleh saja melakukan perawatan tubuh, salah satunya adalah terapi pijat (massage therapy). Namun, kegiatan refleksi atau pijat ini tidak bisa dilakukan pada  trimester awal karena saat itu masih sangat rentan untuk terjadi keguguran. Terapi pijat lebih aman untuk dilakukan di atas trimester pertama, yaitu pada usia kehamilan menginjak trimester dua akhir dan tiga.

Perut, pinggang dan pinggul dilarang dipijat
Pemijatan tidak boleh dilakukan di sembarang area tubuh, seperti pada daerah bagian perut, pinggang maupun pinggul. Sebab, bagian ini berhubungan langsung dengan kandungan dan organ reproduksi, yang jika dipijat akan memicu kontraksi dan ditakutkan bayi bisa lahir secara prematur.

Posisi saat dipijat
Kondisi badan ibu hamil jelas berbeda dengan perempuan yang tidak hamil. Oleh sebab itu, sebelum melakukan pemijatan pada ibu hamil, pastikan tempat pijat diatur sedemikian rupa. Tambahkanlah bantal penyangga agar bumil nyaman dan rileks.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pijat refleksi adalah suatu cara pengobatan penyakit melalui titik pusat urat syaraf yang bersangkutan (berhubungan) dengan organ-organ tubuh tertentu. Dengan kata lain adalah penyembuhan penyakit melalui pijat urat syaraf untuk memperlancar peredaran darah (Ruhito.F, Mahendra B : 2009).
Manfaat utama pijat refleksi adalah untuk mengusir kelelahan dan ketegangan, membantu relaksasi serta mengatasi rasa sakit dan gejala lainnya, serta dapat melancarkan peredaran darah dan  membantu memelihara organ dalam sehingga menjadikan tubuh lebih terpelihara.
Belum ada bukti bahwa pijat refleksi tidak aman untuk ibu hamil . Namun harap diingat, memijat orang normal dan ibu hamil adalah sangat berbeda. sebaiknya menggunakan jasa terapis berpengalaman yang khusus tersertifikasi untuk ibu hamil.




DAFTAR PUSTAKA
Suyoto. 2015.  Pijat Refleksi. Jakarta. Penebar Plus
Rahimsyah. 2014. Pijat Refleksi dan Ramuan Tradisional. Surabaya. Penerbit Serba Jaya

https://www.bundasri.com/bolehkah-ibu-hamil-pijat-refleksi/

Sabtu, 18 Maret 2017

Makalah Pre-Eklamsi dan Eklamsi

Diposting oleh Unknown di 05.17 0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Angka kematian ibu di indonesia masih cukup tinggi. Salah satu penyebab utama tinggi angka kematian ibu ini adalah pre-eklamsia / eklampsia. Pre-eklampsia sering terjadi pada kehamilan terutama pada kehamilan pertama, kehamilan kembar dan wanita yang berusia diatas usia 35 tahun. Selama kehamilan, tanda-tanda pre-eklampsia ini harus dipantau terlebih pada wanita yang berisiko terjadi pre-eklampsia pada kehamilannya ini. Tanda khas pre-eklampsia ini adalah tekanan darah tinggi, ditemukan protein dalam urine dan oedema. Adapun gejala-gejala yang juga harus diketahui yaitu kenaikan BB berlebihan, nyeri kepala yang hebat, muntah, gangguan penglihatan. Jika tanda-tanda tersebut terlambat dideteksi maka akan semakin parah dan keadaan paling berat ini akan kejang, pasien yang akan mengalami kehilangan kesadaran, bahkan sampai pada kematian karena kegagalan jantung, kegagalan ginjal, kegagalan hati dan pendarahan otak.
Usia sebaga salah satu faktor predisposisi terjadinya pre-eklampsia dapat menimbulkan kematian maternal. Wanita hamil diatas usia 35 tahun mengakat 3 kali lipat terjadinya pre-eklampsia. Jika tidak terdeteksi secara dini tentu kasus pre-eklampsia ini akan berubah menjadi eklampsia yang harus mempunyai penanganan yang lebih khusus.
Untuk mengatasi salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu ibi adalah pelayanan kesehatan prenatal yang baik dan tidak boleh menganggap remeh jika menemukan salah satu tanda dari pre-eklampsia.
Jika kasus pre-eklampsia ini menjadi semakin berat dan tidak segera ditangani lamanya akan berakibat buruk kondisi ibu dan janin, bahkan akan berakibatkan kematian ibu dan janin.

B.     Tujuan Penulisan
1.      Bagaimana definisi, diagnosa,  penanganan pre-eklamsia ?
2.      Bagaimana definisi, gejala-gejala, komplikasi, prognosis, penanganan eklamsia ?

C.     Rumusan Masalah
1.      Untuk mengetahui definisi, diagnose, penatalaksanaan, penanganan pre-eklamsia.
2.      Untuk mengetahui definisi, gejala-gejala, komplikasi, prognosis, penanganan eklamsia.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PRE-EKLAMPSIA
1.      Definisi
Bila disertai keadaan sebagai berikut :
ü  Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
ü  Proteinuria 5 gr atau lebih per liter
ü  Oliguria yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam
ü  Adanya gangguan serebral, gangguan visus dan rasa nyeri di epigastrium.
ü  Terdapat oedema paru dan sianosis
2.      Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan :
ü  Gambaran klinik : pertambahan berat badan yang berlebihan, oedema, hipertensi, dan timbul proteinuria.
ü  Gejala subjektif : sakit kepala di daerah frontal, nyeri epigastrium, gangguan visus, penglihatan kabur, skotoma, diplopia, mual dan muntah, gangguan serebral lainnya : oyong, reflek meningkat, dan tidak tenang.
ü  Pemeriksaan : tekanan darah tinggi, refleks meningkat, dan proteinuria pada pemeriksaan laboratorium
3.      Pencegahan
ü  Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin ( pre-eklampsia ringan ) lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
ü  Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya per-eklamsia kalau ada faktor – faktor peredisposisi.
ü  Berikan penerangan tentang mamfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan.
4.      Penanganan
                                           I.            Tujuan utama penanganan adalah :
ü  Untuk mencegah terjadinya pre-eklampsia dan eklamsia
ü  Hendaknya janin lahir hidup
ü  Trauma pada janin semaksimal mungkin
                                        II.            Penanganan Pada Pre-Eklampsia Berat :
ü  Pre-eklampsia berat pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu
ü  Jika janin belum menunjukkan tanda-tanda maturitas paru-paru dengan uji kocok dan rasio L/S, maka penanganan adalah sebagai berikut :
·         Berikan suntikan sulfas magnesikus dengan dosis 8 gr IM kemudian disusul dengan injeksi tambahan 4 gr IM setiap 4 jam ( selama tidak ada kontraindikasi ).
·         Jika ada perbaikan jalannya penyaki, pemberian sulfas magnesikus dapat diteruskan lagi selama 24 jam sampai dicapai kriteria pre-eklampsia ringan ( kecuali ada kontraindikasi ).
·         Selanjutnya ibu dirawat, diperiksa, dan keadaan janin dimonitor, serta BB ditimbang seperti pada pre-eklampsia ringan, sambil mengawasi timbunya lagi gejala.
·         Jika dengan terapi diatas tidak ada perbaikan, dilakukan terminasi kehamilan dengan induksi partus atau tindakan lain tergantung keadaan.
ü  Jika pada pemeriksaan telah dijumpai tanda-tanda kematangan paru janin maka penatalaksanaan kasus sama seperti pada kehamilan diatas 37 minggu.
                                     III.            Pre-eklampsia berat pada usia kehamilan diatas 37 minggu
a)      Penderita rawat inap
·         Istirahat mutlak dan ditempatkan pada kamar isolasi.
·         Berika diit rendah garam dan tinggi protein.
·         Berikan suntikan sulfas magnesikus 8 gr IM, 4 gr dibokong kanan dan 4 gr d bokong kiri.
·         Suntikan dapat diulang dengan dosis 4 gr setiap 4 jam.
·         Syarat pemberian MgSO4 adalah refleks patella positif, diuresis 100 cc dalam 4 jam terakhir, respirasi 16 kali permenit, dan harus tersedia antidotumnya yaitu kalsium glukonas 10 % dalam amp 10 cc.
·         Infus dextrosa 5 % dan ringer laktat.
b)      Berikan obat anti hipertensi : injeksi katapres 1 amp IM dan selanjutnya dapat diberikan tablet katapres 3 kali ½ tablet atau 2 kali ½ tablet sehari.
c)      Diuretika tidak diberikan kecuali bila terdapat oedema paru dan kegagalan jantung kongestif. Untuk ini dapat disuntikan 1 amp IV Lasix.
d)     Segera setelah pemberian sulfas magnesikus kedua, dilakukan induksi partus dengan atau tanpa amniotomi. Untuk induksi dipakai oksitosin ( pitosin atau sintosinon ) 10 satuan dalam infus tetes.
e)      Kala II harus dipersingkat dengan VE atau FE, jadi ibu dilarang mengedan.
f)       Jangan berikan methergin postpartum, kecuali bila terjadi pendarahan yang disebabkan atonia uteri.
g)      Pemberian sulfas magnesikus, kalau tidak ada kontraindikasi, kemudian diteruskan dengan dosis 4 gr setiap 4 jam selama 24 jam postpartum.
h)      Bila ada indikasi obstetrik dilakukan SC.

B.     EKLAMPSIA
1.      Definisi
Eklampsia dalam bahasa yunani berarti “ halilitar “ karena serangan kejang –kejang timbulnya tiba-tiba seperti petir.
2.      Gejala – Gejala Eklampsia :
Ø  Stadium invasi ( awal atau aurora ).
Ø  Mata terpaku dan terbuka tanpa melihat, kelopak mata dan tangan bergetar, kepala dipalingkan ke kanan atau kiri. Stadium ini berlangsung kira-kira 30 menit.
Ø  Stadium kejang tonik.
Ø  Seluruh otot badan jadi kaku, wajah kaku, tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam, pernapasan ke dalam, pernapasan berhenti, muka mulai kelihatan sianosis, lidah dapat tergigit. Stadium ini berlangsung kira-kira 20-30 menit.
Ø  Stadium kejang klonik.
Ø  Semua otot berkontraksi ulang-ulang waktu yang cepat, mulut terbuka dan tertutup. Keluar ludah berbusa dan lidah dapat digigit, mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah berlangsung selama 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar, menarik nafas seperti mendengkur.
Ø  Stadium koma.
Ø  Lamanya ketidaksadaran ( koma ) ini berlangsung selama beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang-kadang antara kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya ibu tetap dalam keadaan koma. Selama serangan tekanan darah meninggi, nadi cepat dan suhu naik sampai 40 celcius.
3.      Komplikasi
Ø  Lidah tergigit
Ø  Terjadi perlukaan dan fraktur
Ø  Gangguan pernafasan
Ø  Perdarahan otak
Ø  Solusio plasenta
Ø  Merangsang persalinan
4.      Prognosis
§  Morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi tinggi
o   Kematian ibu
Disebabkan oleh pendarahan otak, kegagalan jantung paru, kegagalan ginjal, infeksi, kegagalan hepar, dan lain-lain.
o   Kematian bayi
Disebabkan hipoksia intrauterin dan prematuritas
§  Kriteria Eden
Adalah kriteria untuk menentukan prognosis eclampsia, yang terdiri dari :
o   Koma yang lama
o   Frekuensi nadi diatas 120 kali permenit
o   Suhu 39,4 celcius atau lebih
o   Tekanan darah lebih dari 200 mmHg
o   Konvulsi lebih dari 10 kali
o   Proteinuria 10 gr atau lebih
o   Tidak ada oedema, oedema menghilang
5.      Pencegahan
Upaya-upaya yang dilakukan adalah :
§  Memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat bahwa eklampsia bukanlah penyakit kemasukan seperti banyak yang disangka oleh masyarakat.
§  Meningkatkan jumlah poliklinik pemeriksaan antenatal serta mengusahakan agar semua ibu hamil memeriksakan kehamilan sejak hamil muda.
§  Pelayanan kebidanan yang bermutu yaitu pada tiap-tiap pemeriksaan kehamilan diamati tanda-tanda pre-eklampsia dan mengobatinya sedini mungkin.
§  Mengakhiri kehamilan sedapat-dapat pada kehamilan 37 minggu keatas apabila setelah dirawat inap tanda-tanda tidak menghilang.
6.      Penanganan
Prinsip perawatannya adalah :
1)      Tujuan perawatan di RS adalah untuk menghentikan konvulsi, mengurangi vasospasme, meningkatkan diuresis, mencegah infeksi, memberikan pengobatan yang tepat dan cepat, serta untuk melakukan terminasi kehamilan 4 jam serangan kejang yang terakhir, dengan tidak menghitungkan tuanya kehamilan.
2)      Penderita eklampsia harus dirawat inap di RS
3)      Pengangkutan ke RS
Sebelum dikirim, diberikan obat penenang untuk mencegah serangan kejang-kejang selama dalam perjalanan yaitu pethidin 100 mg atau luminal 200 mg atau morfin 10 mg.
4)      Sesampai di RS, pertolongan pertama adalah :
·         Membersihkan dan melapangkan jalan pernapasan
·         Menghindarkan lidah tergigit
·         Pemberian oksigen
·         Pemasangan infus dektrosa atau glukosa
·         Menjaga agar janagan sampai trauma serta dipasang kateter tetap
5)      Observasi penderita
·         Dilakukan didalam kamar isolasi yang tenang dengan lampu redup ( tidak terang ), jauh dari kebisingan dan rangsangan kemudian dibuat catatan setiap 30 menit berisis tensi, nadi, respirasi, suhu badan, refleks,dan diuresis. Bila memungkinkan dilakukan funduskopi sekali sehari, juga dicatat tingkat kesadaran dan jumlah kejang yang terjadi.
·         Pemberian cairan disesuaikan dengan jumlah diuresis, pada umumnya 2 liter dalam 24 jam, kadar protein urin diperiksa dalam 24 jam kuantatif.
6)      Regim-regim pengobatan
·         Regim MgSO4 20 % dengan dosis 4 gr IV perlahan-lahan selama 5-10 menit kemudian disusul dengan suntikan IM dosis 8 gr. Jika tidak ada kontraindikasi, berikan suntikan IM diteruskan dengan dosis 4 gr setiap 4 jam. Pemberian ini dilakukan sampai 24 jam setelah konvulsi berakhir atau setelah persalinan. Bila tidak ada kontraindikasi ( perhatikan pernapasan, refleks dan diuresis ). Juga harus tersedia kalsium glukonas sebagai antidotum.
kegunaan MgSO4 adalah untuk mengurangi kepekaan syaraf pusat agar dapat mencegah konvulsi, menambah diuresis, kecuali bila ada anuria dan untuk menurunkan pernafasan yang cepat.
·         Regim sodium pentotal
Dosis insial suntikan IV perlahan-lehan sodium pentotal 2,5 % adalah sebanyak 0,2-0,3 gr. Dengan infus secara tetes ( drips ) tiap 6 jam diberikan :
ü  1 gr sodium pentotal dalam 500 cc dektrose 10 %
ü  ½ gr dalam 500 cc dextrose 10 %
ü  ½ gr dalam 500 cc dextrose 10 %
ü  ½ gr dalam 500 cc dextrose 10 %
ü  ( selama 24 jam )
kerja pentotal sodium adalah untuk menghentikan kejang dengan segera. Obat ini hanya diberikan di RS karena cukup berbahaya dapat menyebabkan henti nafas.
·         Regim valium ( diazepam )
Dengan dosis 40 mg dalam 500 cc glukosa 10 % dengan tetesan 30 permenit. Seterusnya diberikan setiap 2 jam 10 mg dalam infus atau suntikan IM : sampai tidak kejang, obat ini cukup aman.
·         Regim litik koktil ( lytic cocktail )
Ada 2 macam kombinasi obat yaitu :
ü  Largactil ( 100 mg ) + phenergen ( 50 mg ) + Pethidin ( 100 mg )
ü  Pethidin ( 100 mg ) + Chlorpromazin ( 50 mg ) + Promezathin ( 50 mg )
Masing-masing dilarutkan dalam 500 cc glukosa 5 % dan diberikan secara infus tetes IV : jumlah tetesan disesuaikan dengan serangan kejang dan tekanan darah penderita.
·         Regim stroganoff
7)      Pemberian antibiotika
Untuk mencegah infeksi diberikan antibiotika dosis tinggi setiap hari yaitu penisilin prokain 1,2-2,4 juta satuan.
8)      Penanganan obstetric
·         Setelah pengobatan pendahuluan, dilakukan penilaian tentang status obtetrikus penderita, keadaann janin, keadaan serviks dan sebagainya.
·         Setelah kejang dapat diatasi, keadaan umum penderita diperbaiki, kemudian direncanakan untuk mengakhiri kkehamilan atau mempercepat jalan persalinan dengan cara yang aman.
·         Kalau belum inpartu, maka induksi partus dilakukan setelah 4 jam bebas kejang, dengan atau tanpa amniotomy.
·         Kala II harus dipersingkat dengan ektraksi vakum atau ektraksi forseps. Bila janin mati dilakukan embriotomi.
·         Bila serviks masih tertutup dan lancip ( pada primi ) serta kepala janin masih tinggi atau ada kesan terdapat disproporsi sefalopelvik atau ada indikasi obstetrik lainnya, sebaiknya dilakukan SC ( bila janin hidup ). Anastesi yang dipakai lokal atau umum dikonsultasikan dengan ahli anestesi.
9)      Bahaya yang masih tetap mengancam adalah pendarahan postpartum, infeksi nifas, atau trauma akibat pertolongan obstetric.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Pre-eklampsia berat merupakan suatu kelanjutan dari pre-eklampsia ringan dimana terjadinya kenaikan tekanan darah 160 / 110 mmHg, proteinuria 5 gram / lebih dalam 24 jam ( +3 atau +4 ), oliguria, nyeri epigastrium, gangguan penglihatan. Dalam keadaan PEB, jika tidak ditangani dengan segera maka pasien akan mengalami kejang / sudah dalam tahap eclampsia.
2.      Banyak pesien yang berpotensi dalam PEB ini antara lain : faktor genetik ( keturunan / riwayat keluarga hipertensi ), kehamilan ganda, obesitas, DM, dan faktor prodisposisi. Ibu pekerja keras dean perokok.
3.      Untuk mencegah agar pre-eklampsia ini tidak menjadi berat atau bahkan menjadi eklampsia, perlu dipantau dalam setiap kunjungan ulang antenatal yaitu pertambahan BB yang meningkat terlalu jauh perminggu, tekanan darah dan proteinuria.
4.      Jika kita menemukan pasien dengan kasus PEB, tindakan segera yang langsung kita ambil adalah segera pasien dirujuk ke RS karena kasus ini bukanlah wewenang kita sebagai bidan dan harus memerlukan tindakan yang lebih lanjut yang tidak bisa kita tangani sendiri.
B.     Saran
1.      Diharapkan pada tenaga kesehatan khususnya bidan untuk menjelaskan tanda-tanda bahaya dalam kehamilan, sehingga ibu hamil dapat mengetahui gejala awal dan penyimpangan yang terjadi dan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat.
2.      Bidan harus memberikan penyuluhan pada ibu –ibu hamil tentang KB supaya mereka bisa mengatur kehamilannya.

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo Sarwono, 2002 “ Ilmu kebidanan ” Yayasan Bina pustaka, Jakarta

Mansjoer Arif, 2000 ” Kapita Selekta Kedokteran Edisi Kesatu “, Penerbit Media Aesculapius FKUI , Jakarta

Mochtar Rustam, 1998, “ Sinopsis Obstetri Edisi Kesatu “. Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta

Prof dr Manuaba, Ida Bagus Gde, SPOG. 1998, “ Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga berencana Untuk Pendidikan Bidan ” , Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta

Prof dr Manuaba, Ida Bagus Gde, SPOG, 1998, “ Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB ”. Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta


www.askep-askeb-kita.blogspot.com
 

Sharing is Caring Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea