Selasa, 28 Februari 2017

Kehamilan Ektopik dan Mola Hidatidosa

Diposting oleh Unknown di 05.17 0 komentar
MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN SELAMA KEHAMILAN

KEHAMILAN EKTOPIK DAN MOLA HIDATIDOSA

Disusun Oleh                             :
1.                Restika Lelung                                      16140003

2.                Maria Aprilia Nadia B                         16140005

3.                Maria Gabriella Yohana P G              16140008

4.                Helaria Aviana Ice                                16140011

5.                Nur Fitriani                                           16140015

6.                Ni Luh Gede Adnyasuari                    16140023

7.                Chlara Melanie Triandari                   16140038

8.                Kiki Kartmianti                                    16140046

9.                Novyanti Isra Mawang                        16140048

10.            Dwi Ayu Pamungkas                           16140065

11.            Srigita Dewiyana Herlyn                     16140074

12.            Efriyanti                                                16140116


Kelompok               : 2 (dua)

Kelas             : B.13.1

UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI D-IV BIDAN PENDIDIK





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mola Hidatidosa adalah neoplasma jinak dari sel trofoblast. Pada mola hidatidosa kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan berkembang kenjadi keadaan patologik. Frekuensi Mola banyak ditemukan di Negara – negara asia, Afrika dan Amerika latin dari pada di Negara – negara barat. Mola hidatidosa merupakan penyakit wanita dalam masa reproduksi antara umur 15 tahun sampai 45 tahun.  Penyebab Mola tidak diketahui, factor – factor yang dapat  menyebabkan antar lain : keadaan sosioekonomi yang tinggi dan parietas tinggi. Keluhan dari penderita seperti gejala – gejala hamil muda yang kadang – kadang lebih nyata dari kehamilan biasanya.
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun,frekwensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila tidak diatasi atau diberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi si penderita. (Winkjosastro, 2005)
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan



BAB II
PEMBAHASAN
KEHAMILAN EKTOPIK
1.      Definisi
Istilah ektopik berasal dari bahasa Inggris, ectopic, dengan akar kata dari bahasa Yunani, topos yang berarti tempat. Jadi istilah ektopik dapat diartikan “berada di luar tempat yang semestinya”. Apabila pada kehamilan ektopik terjadi abortus atau pecah, dalam hal ini dapat berbahaya bagi wanita hamil tersebut maka kehamilan ini disebut kehamilan ektopik terganggu.
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik,sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba,jarang terjadi implantasi pada ovarium,rongga perut,kanalis servikalis uteri,tanduk uterus yang rudimenter dan divertikel pada uterus.(Sarwono Prawiroharjho, 2005).
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus. Tuba fallopi merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90 %). (Sarwono. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal).
Kehamilan ektopik ialah kehamilan di tempat yang luar biasa. Tempat kehamilan yang normal ialah di dalam cavum uteri. Kehamilan ektopik dapat terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut, tetapi dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dalam cervix, pars interstitialis tuba atau dalam tanduk rudimenter rahim. (Obstetri Patologi. 1984. FK UNPAD).
2.      Etiologi
a.       Faktor dalam Lumen Tuba
·         Endosalpingitis dapat menyebabkan perlekatan endosalping, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu.
·         Hipoplasia uteri, lumen tuba sempit dan berkeluk-keluk dan hal ini sering disertai gangguan fungsi silia endosalping.
·         Operasi plastik dan stenlilasi yang tidak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit.
b.      Faktor pada Dinding Tuba
·         Endometriosis tuba (tuba tertekuk) dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba.
·         Divertikel tuba kongenital atau ostium asesorius tubae dapat menahan telur yang dibuahi di tempat itu.
c.       Faktor diluar Dinding Tuba
·         Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan telur.
·         Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba.
d.      Faktor Lain
·         Migrasi luar ovum yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus. Pertumbuhan yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi prematur.
·         Fertilisasi in vitro ( pembuahan sel telur dalam kondisi laboratorium, sel telur yang sudah di buahi itu kemudian ditempatkan di dalam rahim wanita).
e.       Bekas radang pada tuba
f.       Kelainan bawaan tuba
g.      Gangguan fisiologik tuba karena pengaruh hormonal
h.      Operasi plastik/riwayat pembedahan pada tuba
i.        Abortus buatan
j.        Riwayat kehamilan ektopik yang lalu
k.      Infeksi pasca abortus
l.        Apendisitis
m.    Infeksi pelvis
n.      Alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)
3.      Tempat Implantasi
Menurut lokasinya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa golongan :
1. Tuba fallopii
a. Pars interstisialis
b. Isthmus
c. Ampulla
d. Infundibulum
e. Fimbria
2. Uterus
a. Kanalis servikalis
b. Divertikulum
c. Kornua
d.Tanduk rudimenter
3. Serviks
4. Ovarium
5. Intra ligamenter
6. Abdoment

4.      Gejala Klinis
Kehamilan Ektopik yang Tidak Ruptur
Kehamilan Ektopik yang Ruptur
       a.            Gejala awal kehamilan (bercak-bercak atau perdarahan yang tidak teratur, perdarahan pervaginam, amenorea, mual, pembengkakan payudara, vagina dan serviks menjadi kebiruan, perlunakan serviks, uterus sedikit membesar, peningkatan frekuensi berkemih)
      b.            Nyeri abdomen dan panggul
       a.            Pucat
      b.            Kolaps dan kesadaran menurun/ lemah
       c.            Denyut nasi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih)
      d.            Hipotensi
       e.            Syok Hipovolemia
       f.            Nyeri akut pada abdomen dan panggul
      g.            Distensi abdomen
      h.            Nyeri tekan yang memantuk
        i.            Nyeri goyang portio
        j.            Perut kembung (adanya cairan bebas intra abdomen
      k.            Ruptur tuba

5.      Patofisiologi
Proses implantasi ovum di tuba pada dasarnya sama dengan yang terjadi di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumnar atau interkolumnar. Pada nidasi secara kolumnar telur bernidasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan direabsorbsi. Pada nidasi interkolumnar, telur bernidasi antara dua jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup maka ovum dipisahkan dari lumen oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba malahan kadang-kadang sulit dilihat vili khorealis menembus endosalping dan masuk kedalam otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya tergantung dari beberapa faktor, yaitu; tempat implantasi, tebalnya dinding tuba dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormon esterogen dan progesteron dari korpus luteum graviditi dan tropoblas, uterus menjadi besar dan lembek, endometrium dapat berubah menjadi desidua. Beberapa perubahan pada endometrium yaitu; sel epitel membesar, nucleus hipertrofi, hiperkromasi, lobuler, dan bentuknya ireguler. Polaritas menghilang dan nukleus yang abnormal mempunyai tendensi menempati sel luminal. Sitoplasma mengalami vakuolisasi seperti buih dan dapat juga terkadang ditemui mitosis. Perubahan endometrium secara keseluruhan disebut sebagai reaksi Arias-Stella.
 Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi kemudian dikeluarkan secara utuh atau berkeping-keping. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus disebabkan pelepasan desidua yang degeneratif.
Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu. Karena tuba bukan tempat pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi adalah :
                   a.            Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
Pada implantasi secara kolumna, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi yang kurang dan dengan mudah diresobsi total.
                  b.            Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yang terjadi karena terbukanya dinding pembuluh darah oleh vili korialis pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Segera setelah perdarahan, hubungan antara plasenta serta membran terhadap dinding tuba terpisah bila pemisahan sempurna, seluruh hasil konsepsi dikeluarkan melalui ujung fimbrae tuba ke dalam kavum peritonium. Dalam keadaan tersebut perdarahan berhenti dan gejala-gejala menghilang.
                   c.            Ruptur dinding tuba
Penyebab utama dari ruptur tuba adalah penembusan dinding vili korialis ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur tuba sering terjadi bila ovum yang dibuahi berimplantasi pada isthmus dan biasanya terjadi pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur yang terjadi pada pars-intersisialis pada kehamilan lebih lanjut. Ruptur dapat terjadi secara spontan, atau yang disebabkan trauma ringan seperti pada koitus dan pemeriksaan vagina.

6.      Diagnosis
Penegakan diagnosis pada kehamilan ektopik belum terganggu sangat  sukar, maka memerlukan alat bantu diagnostik yaitu :
                   a.            Ultrasonografi (apabila ditemukan kantong gestasi diluar uterus yang didalamnya tampak denyut jantung janin)
                  b.            Laparoskopi (hanya digunakan sebagai alat bantu diagnosti terakhir untuk kehamilan ektopik apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain meragukan)
                   c.            Kuldoskopi (cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah atau cairan lain).
Sedangkan penegakan diagnosis kehamilan ektopik terganggu dilakukan melalui:
                   a.            Anamnesis
Bisa ditemukan haid terlambat, nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu,    perdarahan pervaginam setelah nyeri perut bagian bawah.
                  b.            Pemeriksaan umum
Penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahn dalam rongga perut tanda-tanda syok dapat ditemukan.
                   c.            Pemeriksaan ginekologi
Tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan. Pergerakan serviks mungkin bisa nyeri. Bila uetrus dapat teraba maka akan teraba sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan.
                  d.            Pemeriksaan laboratorium
Pengukuran hemaglobin, hematokrit, dan hitung lekosit serta kadar  gonadotropin kronik dan progesteron serum.
                   e.            Dilatasi dan kerokan
Pada umumnya dilatasi dan kerokan untuk menunjang diagnosis kehamilan ektopik tidak dianjurkan.
                   f.            Kuldosentesis
Adalah suatu cara pemeriksaan untuk apakah dalam cavum douglas ada darah atau cairan lain. Cara ini untuk mengidentifikasi hemoperitoneum.
                  g.            Ultrasonografi
Ultrasonografi berguna dalam diagnostik kehamilan ektopik. Diagnostik pasti ialah apabila ditemukan kantunng gestasi di luar uterus yang di dalanya tampak denyut janin.
                  h.            Laparoskopi
Pemeriksaan bagian perut dengan bantuan LAPA-ROSCOPE (alat untuk memeriksa rongga perut). Laparaskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir untuk kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain meragukan.
                    i.            β-hCG serum kuantitatif plus sonografi
Bila kehamilan didiagnosis seorang wanita dengan hemodinamika stabil yang dicurigai mengalami kehamilan ektopik, penatalaksanaan berikutnya didasarkan pada nilai β-hCG serum serial dan sonografi.
                    j.            Kuretase
Diferensiasi antara abortus imminens atau incomplet dangan kehamilan tuba pada banyak kasus dapat dilakukan dengan kuretase rawat jalan.
                  k.            Laparatomi
Tindakan lebih disukai jika wanita tersebut secara hemodinamik tidak stabil, atau kalau tidak mungkin dilakukan laparaskopi.
(Wiknjosastro, 2005 – Cunningham, 2006)
7.      Penanganan
a         Upaya stabilisasi dengan merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid NS atau RL (500ml dalam 15 menit pertama) atau 2 L dalam 2 jam pertama.
b        Kemoterapi. Kriteria khusus diobati dengan cara ini kehamilan di pars ampullaris tuba belum pecah, diameter kantung gestasi ≤ 4 cm, perdarahan dalam rongga perut ≤ 100ml, tanda vital baik dan stabil. Obat yang digunakan metotrexate 1mg/kg IV dan sitrovorum vactor 0,1mg/kg IM berselang-seling setiap hari selama 8 hari.
c         Kuretase.
d        Laparatomi. Memperhatikan berbagai hal diantaranya kondisi penderita, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi anatomik organ pelvik, kemampuan teknik bedah micro dokter operator, dan kemampuan teknologi fertilisasi in vitro setempat.
e         Salpingektomia. Pada kondisi yang buruk seperti syok.
(Wiknjosastro, 2005 - Saifuddin, 2008)

MOLA HIDATIDOSA
1.      Pengertian
Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan.
Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematous, janin biasanya meninggal akan tetapi vilus-vilus yang membesar dan edematous itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus sebuah anggur.
Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hidrofobik. Molahidatidosa merupakan kehamilan yang secara genetik tidak normal yang muncul dalam bentuk kelainan perkembangan plasenta.
Molahidatidosa adalah penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon placenta dan disertai dengan degenerasi kistik vili dan perubahan hidropik. Hamil anggur atau molahidatidosa adalah kehamilan abnormal berupa tumor jinak yang terjadi sebagai akibat kegagalan pembentukan “bakal janin“ sehingga terbentuk jaringan permukaan membran (vili-vili) mirip gerombolan buah anggur.
2.      Etiologi

Penyebab molahidatidosa belum diketahui secara pasti, namun ada faktor-faktor penyebabnya adalah :
a         Faktor ovum
Pembuahan sel telur dimana intinya telah hilang atau tidak aktif lagi oleh sebuah sel sperma.
b        Imunoselektif dari trofoblas
Perkembangan molahidatidosa diperkirakan disebabkan oleh kesalahan respon imun ibu terhadap invasi oleh trofoblas. Akibatnya vili mengalami distensi kaya nutrient. Pembuluh darah primitive di dalam vilus  tidak terbentuk dengan baik sehingga embrio ‘ kelaparan’, mati, dan diabsorpsi, sedangkan trofoblas terus tumbuh dan pada keadaan tertentu mengadakan invasi kejaringan ibu.
c         Usia
Faktor usia yang dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dapat terjadi kehamilan mola. Prekuensi molahidatidosa pada kehamilan yang terjadi pada awal atau akhir usia subur relatif tinggi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada usia berapa pun dalam usia subur dapat terjadi kehamilan mola.
d        Keadaan sosio-ekonomi yang rendah
Dalam masa kehamilan keperluan akan zat-zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin, dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah maka untuk memenuhi zat-zat gizi yang diperlukan tubuh kurang sehingga mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan janinnya.
e         Paritas tinggi
Pada ibu yang berparitas tinggi, cenderung beresiko terjadi kehamilan molahidatidosa karena trauma kelahiran atau penyimpangan transmisi secara genetik yang dapat diidentifikasikan dengan penggunaan stimulandrulasi seperti klomifen atau menotropiris (pergonal). Namun juga tidak dapat dipungkiri pada primipara pun dapat terjadi kehamilan molahidatidosa.
f         Defisiensi protein
Protein adalah zat untuk membangun jaringan-jaringan bagian tubuh sehubungan dengan pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim dan buah dada ibu, keperluan akan zat protein pada waktu hamil sangat meningkat apabila kekurangan protein dalam makanan mengakibatkan pertumbuhan pada janin tidak sempurna.
g        Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas
Infeksi mikroba dapat mengenai semua orang termasuk wanita hamil. Masuk atau adanya mikroba dalam tubuh manusia tidak selalu menimbulkan penyakit ( desease ). Hal ini sangat tergantung dari jumlah mikroba ( kuman atau virus ) yang termasuk virulensinya seta daya tahan tubuh.
h        Riwayat kehamilan mola sebelumnya
Kekambuhan molahidatidosa dijumpai pada sekitar 1-2% kasus. Dalam suatu kejadian terhadap 12 penelitian yang total mencangkup hampir 5000 Kelahiran, frekwensi mola adalah 1,3%. Dalam suatu ulasan tentang molahidatidosa berulang tapi pasangan yang berbeda bisa disimpulkan bahwa mungkin terdapat “ masalah oosit primer “.
3.      Gejala Klinis
a         Amenorrhoe dan tanda – tanda kehamilan
b        Perdarahan pervaginam dari bercak sampai perdarahan berat.                                                       
c         Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia kehamilan.
d        Tidak dirasakan tanda – tanda adanya gerakan janin maupun ballottement
e         Hiperemesis,
f         Preklampsi dan eklampsi sebelum minggu ke – 24
g        Keluar jaringan mola seperti buah anggur, yang merupakan diagnosa pasti
h        Tirotoksikosis
4.      Patofisiologi
Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung – gelembung berisi cairan jernih merupakan kista – kista kecil seperti anggur dan dapat mengisi seluruh cavum uteri. Secara histopatologic kadang – kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Bisa juga terjadi kehamilan ganda mola adalah : satu jenis tumbuh dan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa. Gelembung mola besarnya bervariasi, mulai dari yang kecil sampai yang berdiameter lebih dari 1 cm.
Mola hidatidosa terbagi menjadi 2,yaitu :
a         Mola Hidatidosa Sempurna
Villi korionik berubah menjadi suatu massa vesikel – vesikel jernih. Ukuran vesikel bervariasi dari yang sulit dilihat, berdiameter sampai beberapa sentimeter dan sering berkelompok – kelompok menggantung pada tangkai kecil.
Temuan Histologik ditandai oleh:
·         Degenerasi hidrofobik dan pembengkakan Stroma Vilus
·         Tidak adanya pembuluh darah di vilus yang membengkak
·         Proliferasi epitel tropoblas dengan derajat bervariasi
·         Tidak adanya janin dan amnion.
b        Mola Hidatidosa Parsial
Apabila perubahan hidatidosa bersifat fokal dan kurang berkembang, dan mungkin tampak sebagai jaringan janin. Terjadi perkembangan hidatidosa yang berlangsung lambat pada sebagian villi yang biasanya avaskular, sementara villi – villi berpembuluh lainnya dengan sirkulasi janin plasenta yang masih berfungsi tidak terkena.

5.      Diagnosis
a         Klinis
1)      Berdasarkan anamnesis
2)      Pemeriksaan fisik
·         Inspeksi : muka dan kadang-kadang badan kelihatan kekuningan yang disebut muka mola (mola face)
·         Palpasi :
-          Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba lembek
-          Tidak teraba bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin.
·         Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin
·         Pemeriksaan dalam :
-          Memastikan besarnya uterus
-          Uterus terasa lembek
-          Terdapat perdarahan dalam kanalis servikalis
b        Laboratorium
Pengukuran kadar Hormon Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi maka uji biologik dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan positif setelah titrasi (pengeceran) :
- Galli Mainini 1/300 (+) maka suspek molahidatidosa
c         Radiologik
    - Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin
               - USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai salju.
d        Uji Sonde (cara Acosta-sison)
     Tidak rutin dikerjakan. Biasanya dilakukan sebagai tindakan awal
                curretage.
e         Histopatologik
     Dari gelembung-gelembung yang keluar, dikirim ke Lab. Patologi
               Anatomi

6.      Penatalaksaan
a         Evakuasi
1)      Perbaiki keadaan umum.
2)      - Bila mola sudah keluar spontan dilakukan kuret atau kuret isap
- Bila Kanalis servikalis belum terbuka dipasang laminaria dan 12   jam kemudian dilakukan kuret.
3)      Memberikan obat-obatan Antibiotik, uterotonika.
4)      7-10 hari setelah kerokan pertama, dilakukan kerokan ke dua untuk membersihkan sisa-sisa jaringan.
5)      Histeriktomi total dilakukan pada mola resiko tinggi usia lebih dari 30 tahun, Paritas 4 atau lebih, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi pusat atau lebih.
b        Pengawasan Lanjutan
-          Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai  kontrasepsi oral pil.
-          Mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun :
§  Setiap minggu pada Triwulan pertama
§  Setiap 2 minggu pada Triwulan kedua
§  Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya
§  Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap 3 bulan.
§  Setiap pemeriksaan ulang perlu diperhatikan :
a)      Gejala Klinis : Keadaan umum, perdarahan
b)      Pemeriksaan dalam :
o   Keadaan Serviks
o   Uterus bertambah kecil atau tidak
c)      Laboratorium
·         Reaksi biologis dan imunologis :
-          1x seminggu sampai hasil negative
-          1x2 minggu selama Triwulan selanjutnya
-          1x sebulan dalam 6 bulan selanjutnya
-          1x3 bulan selama tahun berikutnya
·         Jika hasil reaksi titer masih (+) maka harus  dicurigai adanya keganasan





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Kehamilan Ektopik
Mola hidatidosa adalah suatu bentuk tumor jinak dari sel-sel trofoblas (yaitu bagian dari tepi sel telur yang kelak terbentuk menjadi ari-ari janin) Hasil pembuahan yang gagal tersebut lalu membentuk gelembung-gelembung menyerupai buah anggur. Pertumbuhan gelembung semakin hari semakin banyak bahkan bisa berkembang secara cepat.Hal ini yang membuat perut seorang ibu hamil dengan Molahidatidosa tampak cepat besar.
2.      Mola Hidatidosa
Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%)   terutama di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan
ektopik adalah penyakit radang panggul, pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas, kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi. Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung lokasi dari implantasi. Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan vaskularisasi di tempat tersebut dan berpotensial menimbulkan ruptur organ, terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika tidak mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat. (Marten,2009)  

 

Sharing is Caring Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea