RESUME KETERAMPILAN DASAR
KEBIDANAN 1
DI SUSUN OLEH :
Nur Fitriani (16140015)
Kelas B 13.1
Program Studi D4 Bidan Pendidik
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
|
Resume
Keterampilan Dasar Kebidanan 1
A.
Cairan tubuh
1.
Kebutuhan cairan
tubuh
Kebutuhan cairan
merupakan kebutuhan fisiologis yang digunakan untuk alat transportasi nutrien,
elektrolit dan sisa metabolisme sebagai komponen pembentuk sel, plasma, darah
dan komponen tubuh yang lainnya sebgai pengatur suhu tubuh dan seluler. Dalam
pemenuhannya terdapat sistem organ tubuh yang berperan diantaranya ginjal,
kulit, paru-paru dan gastrointensial.
a.
Ginjal,
merupakan organ yang memiliki peran penting dalam pengaturan kebutuhan cairan
dan elektrolit. Hal ini terlihat pada fungsi ginjal yakni sebagai pengaturan
air, pengaturan konsenrasi garam dalam darah, pengaturan kesimbangan asam basa
dalam darah, dan pengaturan ekskresi bahan buangan atau kelebihan garam.
b.
Kulit, merupakan
bagian penting dalam pengaturan cairan yang terkait dengan proses pengaturan
panas, proses ini diatur oleh pusat pengatur panas dan disarafi oleh
vasomotorik yakni kemampuan mengendalikan arteriol kutan dengan cara penguapan
yakni jumlah keringat yang dikeluarkan tergantung dengan banyakya darah yang
mengalir melalui pembuluh darah dalam kulit.
c.
Paru-paru, juga
memiliki peran dalam pengeluaran cairan dengan menghasilkan insensible water loss kurang 400
ml/hari, dan proses pengeluaran cairan terkait dengan respon akibat perubahan
terhadap upaya kemampuan bernapas.
d.
Gastrointestial,
merupakan organ saluran pencernaan yang berperan dalam mengeluarkan cairan
melalui proses penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal cairan yang
hilang dalam sistem ini sekitar 100-200 ml/hari.
Selain itu, pengaturan
keseimbangan cairan dapat melalui mekanisme rasa haus yang dikontrol oleh
sistem endokrin (hormonal) yakni anti diuretik hormon (ADH), sistem aldosteron,
prostaglandin dan glukokortikoid.
a.
ADH, merupakan
hormon yang berperan dalam peningkatan reabsorpsi air yang mampu mengendalikan
keseimbangan air, hormon ini dibentuk
hipotalamus yang ada pada hipofisis posterior yang mensekresi ADH dengan
peningkatan osmolaritas dan penurunan cairan ekstra sel.
b.
Aldosteron,
memiliki fungsi sebagai absorpsi natrium yang disekresi oleh kelenjar adrenal
di tubulus ginjal. Proses pengeluaran aldosteron ini diatur oleh adanya
perubahan konsentrasi kalium, natrium dan sistem angiostensin renin.
c.
Prostaglandin,
merupakan asam lemak yang terdapat pada jaringan dan berfungsi merespon radang,
pada ginjal asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal sebagai
respon natrium dengan pengaturan melalui pengaturan melalui pengendalian
tekanan darah, kontraksi uterus dan mobilitas sistem pencernaan.
d.
Glukokortikoid,
berfungsi dalam peningkatan reabsorbsi natrium dan air yang menhyebabkan volume
darah meningkat sehingga terjadi retensi natrium.
Mekanisme rasa haus
diatur dalam rangka memenuhi kebutuhan cairan dengan merangsang pelepasan
renin. Pelepasan renin tersebut dapat menimbulkan produksi angiostensin II yang
merangsang hipotalamus, sehingga menimbulkan rasa haus.
2.
Kebutuhan cairan
tubuh manusia
Air tubuh total (Total
body water [TBW]) bergantung pada usia, berat badan, jenis kelamin dan derajat
obesitas. Kandungan ini secara perlahan berkurang seiring bertambahnya usia.
a.
Pada bayi,
sekitar 80% berat badannya adalah air. Karena bayi memiliki area permukaan yang
lebih besar dibandingkan berat badannya, bayi mengalami kehilangan air tak
kasat mata (difusi molekul air melalui sel-sel kulit). Kebutuhan cairannya juga
lebih tinggi karena pertumbuhan yang cepat dan peningkatan metabolisme yang
mengakibatkan peningkatan produksi urine.
b.
Pada orang
dewasa, TBW mencapai 60% BB (sekitar 40 L) laki-laki muda dan 50% BB (sekitar
30 L) pada perempuan muda
c.
Pada orang
berusia 65 tahun ke atas, TBW hanya mencapai 40%-50% BB
Bayi, lansia dan orang
yang obesitas sangat rentang terhadap kehilangan air. Kekurangan air
(dehidrasi) dapat terjadi dengan sangat cepat selama berlangsungnya mekanisme
kehilangan air seperti berkeringat, demam, diare dan muntah
Tabel. Kebutuhan air berdasarkan usia dan berat
badan
|
Usia
|
Kebutuhan
Air
|
|
|
Jumlah Air
dalam 24 Jam
|
ml/kg Berat
Badan
|
|
|
3 hari
1 tahun
2 tahun
4 tahun
10 tahun
14 tahun
18 tahun
Dewasa
|
250-300
1150-1300
1350-1500
1600-1800
2000-2500
2200-2700
2200-2700
2400-2600
|
80-100
120-135
115-125
100-110
70-85
50-60
40-50
20-30
|
Sumber: Behrman dkk, 1996
3.
Cara perpindahan
cairan
a.
Difusi,
merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas atau zat padat dengan
bebas dan acak. Proses difusi dapat terjadi bila 2 zat bercampur dalam sel
membran. Di dalam tubuh, proses proses difusi air, elektrolit dan zat-zat lain
terjadi melalui membran kapiler yang permeable. Kecepatan proses difusi
bervariasi tergantung pada faktor ukuran molekul, konsentrasi cairan dan
temperatur cairan. Zat dengan molekul yang besar akan bergerak lambat dibanding
molekul kecil. Molekul akan lebih udah berpindah dari larutan berkonsentrasi
tinggi ke larutan berkonsenrasi rendah. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi
akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih
cepat.
b.
Osmosis,
merupakan proses perpindahan zat ke larutan lain melalui membran semi
permeable, biasanya terjadi dari larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat.
Solut adalah zat pelarut, sedangkan solven adalah larutannya. Air merupakan
solven, sedangkan garam adalah solut. Proses osmosis ini penting dalam
pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intra sel.
c.
Transpor aktif,
merupakan proses perpindahan cairan tubuh menggunakan mekanisme transpor aktif.
Transpor aktif adalah gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis. Proses ini
terutama penting untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan ekstra
sel.
4.
Faktor yang
mempengaruhi cairan
a.
Usia
b.
Temperatur
c.
Diet
d.
Stres
e.
Sakit
(sumber: Dari berbagai sumber)
B.
Gangguan
Keseimbangan Cairan
1.
Hipovolume atau
Dehidrasi
Suatu keadaan dimana
tubuh kekuarangan cairan eksternal yang terjadi karena penurunan asupan cairan
dan kelebihan pengeluaran cairan. Tubuh akan merespon kekurangan cairan tubuh
dengan mengosongkan cairan vaskular. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan
interstial, tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengososngancairan ini
terjadi pada pasien muntah dan diare. Ada 3 macam kekurangan volume cairan
eksternal atau dehidrasi, yaitu :
a.
Dehidrasi
isotonik, terjadi jika kehilangan sejumlah cairan dan elektrolitnya yang
seimbang
b.
Dehidrasi
hipertonik, terjadi jika kehilangan sejumlah air yang lebih banyak daripada
elektrolitnya
c.
Dehidrasi
hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyak kehilangan elektrolitnya daripada
air
Kehilangan cairan
ekstrasel yang berlebihan akan menyebabkan volume ekstrasel berkurang
(hipovolume). Pada keadaan ini, tidak terjadi perpindahan cairan daerah
intrasel ke permukaan, sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi kekurangan
cairan ekstrasel dalam waktu yang lama maka kadar urea, nitrogen, serta kreatin
akan meningkat dan menyebabkan terjadinya perpindahan cairan intrasel ke
pembuluh darah. Kekurangan cairan dalam tubuh dapat terjadi secara lambat atau
cepat dan tidak selalu cepat diketahui. Kelebihan asupan pelarut seperti
protein dan klorida/natrium akan menyebabkan kelebihan pengeluaran secara
berlebihan, serta berkeringat banyak dalam waktu yang lama dan terus-menerus.
Kelainan lain yang menyebabkan kelebihan pengeluaran urine adalah adanya
gangguan pada hipotalamus, kelenjar gondok dan ginjal, diare, muntah yang
terus-menerus, terpasang drainage, dan lain-lain
Macam-macam dehidrasi
(kurang volume cairan) berdasarkan derajatnya:
a.
Dehidrasi berat
·
Pengeluaran/kehilang
cairan 4-6 L
·
Serum natrium
159-166 mEq/L
·
Hipotensi
·
Turgor kulit
buruk
·
Oliguria
·
Nadi dan
pernapasan meningkat
·
Kehilangan
mencapai > 10% BB
b.
Dehidrasi sedang
·
Kehilagan cairan
2-4 L atau antara 5-10% BB
·
Serum natrium
152-158 mEq/L
·
Mata cekung
c.
Dehidrasi
ringan, dengan terjadinya kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5-2 L
2.
Hipervolume atau
Overhidrasi
Terdapat 2 manifestasi
yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan yaitu hipervolume (peningkatan volume
darah) dan edema (kelebihan cairan pada interstisial). Normalmya cairan
interstial tidak terikat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat pada
jaringan. Keadaan hipervolume dapat menyebabkan pitting edema, merupakan edema
yang berada pada darah perifer atau akan mencekung setelah ditekan pada daerah
yang bengkak. Hal ini disebabkan karena perpindahan cairan ke jaringan melalui titik
tekanan. Cairan dalam jaringan edema tidak digerakkan ke permukaan lain dengan
penekanan jari. Nonpitting edema tidak menunjukkan tanda kelebihan cairan
ekstrasel, tetapi sering karena infeksi dan trauma yang menyebabkan pengumpulan
membekunya cairan pada permukaan cairan. Kelebihan cairan vaskular dapat
meningkatkan hidrostatik cairan dan akan menekan cairan ke permukaan
interstial, sehingga menyebabkan edema amasarka (edema yang terdapat di seluruh
tubuh).
Peningkatan tekanan
hidrostatik yang besar dapat menekan sejumlah cairan hingga ke membran kapiler
paru-paru, sehingga menyebabkan edema paru-paru dan dapat menyebabkan kematian.
Manifestasi edema paru-paru adalah penumpukan sputum, dispnea, batuk dan suara
ronkhi. Keadaan edema ini disebkan oleh gagal jantung yang mengakibatkan
peningkatan penekanan pada kapiler darah paru-paru dan perpimdahan cairan ke
jaringan paru-paru.
(sumber: buku KDPK untuk kebidanan edisi
2, hal. 46-48)
C.
Gangguan
Keseimbangan Elektrolit
1.
Hiponatremia
Hiponatremia merupakan
suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang ditandai dengan
adanya kadar natrium plasma yang kurang dari 135mEq/L, mual, muntah dan diare.
Hal tersebut menimbulkan rasa haus yang berlebihan, denyut nadi yang cepat,
hipotensi, konvulsi dan membran mukosa kering.
Penyebab, yaitu
kekurangan cairan yang berlebihan seperti kondisi diare yang berkepanjangan.
2.
Hipernatremia
Hipernatremia merupakan
suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma darah tinggi yang ditandai
dengan adanya mukosa kering, oligura/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan
kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, konvulsi, suhu
badan naik, serta kadar natrium dalam plasma lebih dari 145 mEq/L.
Penyebab, yaitu
dehidrasi, diare dan asupan air yang berlebihan sedangkan asupan garamnya
sedikit.
3.
Hipokalemia
Hipokalemia adalah
suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah, ditandai dengan lemahnya
denyut nadi, turunnya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perut
kembung, lemah dan lunaknya otot, denyut jantung tidak beraturan (aritmia),
penurunan bising usus, serta kadar kalium plasmanya menurun hingga kurang dari
3,5 mEq/L.
Penyebab, hipokalemia
sering terjadi pada pasien yang mengalami diare berkepanjangan, serta dapat
terjadi dengan secara cepat.
4.
Hiperkalemia
Hiperkalemia adalah
suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah tinggi, ditandai dengan adanya
mual, hiperaktivitas sistem pencernaan, aritmia, lemah, jumlah urine yang
sangat sedikit, diare, adanya kecemasan dan iritabilitas (peka rangsangan),
serta kadar kalium dalam plasma mencapai lebih dari 5 mEq/L.
Penyebab, keadaan ini
sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolik,
pemberian kalium yang berlebihan melalui intravena.
5.
Hipokalsemia
Hipokalsemia merupakan
kekurangan kadar kalsium pada plasma darah, ditandai denga adanya kram otot dan
kram perut, kejang, bingung, kadar kalsium dalam plasma darah kurang dari 4,3
mEq/L, seta kesemutan pada jari dan sekitar perut
Penyebab, pengaruh
pengangkatan kelenjar gondok atau kehilangan sejumlah kalsiumkarena sekresi
intestinal.
6.
Hiperkalsemia
Hiperkalsemia adalah
suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah, ditandai dengan adanya nyeri
pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-mual, koma dan kadar kalsium
dalam plasma lebih dari 4,3 mEq/L.
Penyebab, terjadi pada
pasien yang mengalami pengangkatan gondok dan makan vitamin D secara
berlebihan.
7.
Hipomagnesia
Hipomagnesia adalah
suatu keadaan kekurangan kadar magnesium dalam darah, ditandai dengan adanya
iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, takikardi, hipertensi,
disorientasi dan kovulsi, serta kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,3 mEq/L
8.
Hipermagnesia
Hipermagnesia merupakan
kondisi kelebihan kadar magnesium dalam darah, ditandai dengan adanya koma,
gangguan pernapasan dan kadar magnesium lebih dri 2.5 mEq/L
(sumber : buku KDPK untuk Kebidanan, hal.
51-52)
D.
Gangguan
Keseimbangan Asam dan Basa
1.
Asidosis,
menekan aktivitas mental, Jika asidosis belebihan (pH darah dibawah 7,0) akan
menyebabkan disorientasi, koma dan kematian.
a.
Asidosis
respiratorik, terjadi akibat penurunan ventilasi pulmonar melalui pengeluaran
sedikit karbondioksida oleh paru-paru. Peningkatan selanjutnya dalam pCO2
arteri dan asam karbonat akan meningkatkan kadar ion hidrogen dalam darah.
Asidosis respiratorik dapat bersifat akut atau kronik.
Penyebab, kondisi klinis yang dapat menyebabkan retensi
karbondioksida meliputi pneumonia, emfisema, obstruksi saluran pernapasan,
stroke atau trauma. Obat-obatan tertentu (barbiturat, narkotik dan sedatif) atau
penyalahgunaan obat akan menekan frekuensi pernapasam dan mengakibatkan
asidosis respiratorik
b.
Asidosis
metabolik, terjadi saat asam metabolik yang diproduksi secara normal tidak
dikeluarkan pada kecepatan yang normal atau basa bikarbonat yang hilang dari
tubuh.
Penyebab, Asidosis metabolik paling umum terjadi akibat
ketoasidosis karena diabetes melitus atau kelaparan, akumulasi asam laktat
akibat peningkatan aktivitas otot rangka seperti konvulsi atau pemyakit ginjal,
diare berat dan berkepanjangan disertai hilangnya bikarbonat dapat menyebabkan
asidosis
2.
Alkalosis,
meningkatkan overeksitabiltas sistem saraf. Jika parah maka dapat menyebabkan
kontraksi otot tetanik, konvulsi dan kematian akibat tetanus otot respirotik
a.
Alkalosis
respiratorik, terjadi jika CO2 dikeluarkan terlalu cepat dari
paru-paru dan ada penurunan kadarnya dalam darah
Penyebab, hiperventilasi dapat disebabkan oleh kecemasan,
akibat demam, akibat pengaruh overdosis aspirin pada pusat pernapasan, akibat
hipoksia karena tekanan udara yang rendah di dataran tinggi atau akibat anemia
berat
b.
Alkalosis
metabolik, adalah suatu kondisi kelebihan bikarbonat. Hal ini terjadi jika ada
pengeluaran berlebih ion hidrogen atau peningkatan berlebih ion bikarbonatdalam
cairan tubuh
Penyebab, muntah yang berkepanjangan (pengeluaran asam
klorida lambung), disfungsi ginjal, pengobatan dengan diurektik yang
mengakibatkan hipokalemia dan penipisan volume CES atau pemakaian antasid
berlebihan dapat menyebabkan alkalosis metabolik
(sumber : buku Anataomi dan Fisiologi,
hal. 341-342)
E. Mekanisme
Penanganan Gangguan Cairan, Menghitung Tetesan Infus dan Jenis Cairan Introvena
1.
Mekanisme Penanganan Gangguan Cairan
a. Pemberian
Cairan Melalui Infus
Merupakan tindakan yang
dilakukan pada pasien dengan cara memasukkan cairan melalui intra vena dengan
bantuan infus set, dengan tujuan memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit,
sebagai tindakan pengobatan dan pemberian nutrisi parental.
Persiapan alat dan bahan
1. Standar
infus
2. Infus
set
3. Cairan
sesuai dengan kebutuhan pasien
4. Jarum
infus dengan ukuran yang sesuai
5. Pengalas
6. Torniket/karet
pembendung
7. Kapas
alkohol
8. Plester
9. Guntuing
10. Kasa
steril
11. Betadin
12. Sarung
tangan
Prosedur
Pelaksanaan
1. Cuci
tangan
2. Jelaskan
prosedur yang akan dilakukan
3. Hubungkan
cairan dan infus set dengan menusukkan ke dalam botol infus (cairan)
4. Isi
cairan kedalam infus ke dalam infus set dengan menekan bagian ruang tetesan
hingga ruangan tetesan terisi sebagian dan buka penutup hingga slang terisi dan
udara slang keluar
5. Letakkan
pengalas dibawah vena yang akan dilakukan infus
6. Lakukan
pembendungan dengan torniket atau karet pembendung 10-12 cm diatas tempat
penusukan dan anjuerkan pasien untuk menggenggam
7. Gunakan
sarung tanga steril
8. Desinfeksi
daerah yang akan ditusuk dengan kapas alkohol
9. Lakukan
penusukkan pada vena dengan posisi jarum mengarah ke atas
10. Cek
keluarnya darah melalui jarum. Apabila saat penusukkan terjadi pengeluaran
darah maka tarik keluar bagian dalam jarum sambil meneruskan tusukan ke vena
11. Setelah
jarum infus bagian dalam dikeluarkan, tahan bagian atas vena dengan menekan
menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar, dan hubungkan bagian infus
dengan slang infus
12. Buka
pengatur tetesan dan atur kecepatan sesuai dengan dosis yang diberikan
13. Lakukan
fiksasi dengan kaca steril
14. Tulislah
tanggal, jam pelaksanaan infus pada plester, catat ukuran, tipe jarum, jenis
cairan, letak infus dan kecepatan aliran
15. Lepaskan
sarung tangan
16. Cuci
tangan
b. Melaksanakan
Tranfusi Darah
Merupakan tindakan yang
dilakukan pada pasien yang membutuhkan darah dengan cara memasukkan darah
melalui vena dengan menggunakan alat tarnsfusi set. Tujuannya untuk memenuhi
kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.
Persiapan alat dan bahan
1. Standar
infus
2. Tranfusi
set
3. NaCl
0,9%
4. Darah
sesuai dengan kebutuhan pasien
5. Jarum
infus/abocath atau sejenisnya dengan ukuran
6. Pengalas
7. Torniket/karet
pembendung
8. Kapas
alkohol
9. Plester
10. Guntuing
11. Kasa
steril
12. Betadin
13. Sarung
tangan
Prosedur Pelaksanaan
1. Cuci
tangan
2. Jelaskan
prosedur yang akan dilakukan
3. Gunakan
slang infus yang mempunyai filter (slang Y atau tunggal)
4. Lakukan
pemasangan sebagaimana prosedur infus, terlebih dahulu masukkan cairan NaCl
0,9% sebelum pemberian transfusi
5. Periksa
identifikasi kebenaran produk dara, kompatibilitas dalam kantong darah, periksa
kesesuaian dengan identifikasi pasien, periksa kedaluwarsa dan periksa adanya
bekuan
6. Buka
set pemberian darah, untuk slang Y atur ketiga klem, dan untuk slang tunggal
klem pengatur pada posisi off
7. Cara
transfusi dengan slang Y:
a. Lakukan
penusukkan pada botol cairan berisi NaCl 0,9% dan isi slang dengan NaCl 0,9%
b. Buka
klem pengatur pada slang Y dan hubungkan ke kantong NaCl 0,9%
c. Tutup
atau klem pada slang yang tidak digunakan
d. Tekan
sisi bilik dengan ibu jari dan jari telunjuk (biarkan ruang filter terisi
sebagian)
e. Buka
klem pengatur bagian bawah dan biarkan slang terisi NaCl 0,9%
f. Kantong
darah perlahan dibalik-balik 1-2 kali agar sel-selnya tercampur. Kemudian tusuk
kantong darah dan buka klem pada slang dan filter terisi darah
8.
Cara transfusi dengan slang tunggal
a. Lakukan
penusukkan pada kantong darah
b. Tekan
sisi bilik dengan ibu jari dan jari telunjuk sehingga filter terisi sebagian
c. Buka
klem pengatur dan biarkan slang infus terisi darah
9.
Setelah darah masuk, pantau tanda vital
tiap 5 menit selama 15 menit pertama, dan tiap 15 menit selama 1 jam berikutnya
10. Setelah
dilakukan tarnsfusi bersihkan slang dengan memasukkan cairan NaCl 0,9%
11. Catat
tipe, jumlah, komponen darah yang diberikan
12. Cuci
tangan
2.
Menghitung
Tetesan Infus
a)
Dewasa
: (makro dengan 20 tetes/ml)
Dewasa
: (makro dengan 20 tetes/ml)
Atau
![]() |
b)
Anak-anak :
(sumber : buku Keterampilan Dasar
Kebidanan 1, hal. 99-104)
3.
Jenis Cairan
a.
Cairan zat gizi
(nutrien)
Pasien yang istirahat di tempat tidur
memerlukan kalori 450 kalori setiap hari. Cairan nutrien dapat diberikan
melalui intravena dalam bentuk karbohidrat, nitrogen dan vitamin untuk
metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien dapat berkisar antara
200-1500 kalori per-liter. Cairan nutrien terdiri atas:
·
Karbohidrat dan
air, contoh: dekstrosa (glukosa), levulosa (fruktosa) sera invert sugar (1/2 dekstrosa dan ½ levulosa)
·
Asam amino,
contoh: amigen, aminosol dan travamin
·
Lemak, contoh:
lipomul dan liposyn
b.
Blood volume expanders
Blood volume
expanders merupakan jenis cairan
yang berfungsi meningkatkan volume darah sesudah kehilangan darah atau plasma.
Hal ini terjadi pada saat pasien mengalami pendarahan hebat, maka pemberian
plasma akan mempertahankan volume darah. Pada pasien dengan luka bakar yang
berat, sebagian besar cairan akan hilang dari pembuluh darah di daerah luka.
Plasma sangat perlu diberikan untuk menggantikan cairan ini. Jenis Blood volume expanders antara lain: human serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang berbeda.
Kedua cairan ini mempunyai tekanan osmotik, sehingga secara langsung dapat
meningkatkan jumlah volume darah.
Jenis cairan intravena :
·
Cairan
bisa bersifat isotonis (contohnya ; NaCl 0,9 %, Dekstrosa 5 % dalam air, Ringer
laktat / RL, dll)
·
Cairan
bisa bersifat hipotonis (contohnya ; NaCl 5 %)
·
Cairan
bisa bersifat hipertonis (contohnya ; Dekstrosa 10 % dalam NaCl, Dektrosa 10 %
dalam air, Dektrosa 20 % dalam air)
a.
ASERING
Indikasi:
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan
asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka
bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
b.
KA-EN 1B
Indikasi:
Indikasi:
·
Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum
diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak
memadai, demam)
·
< 24 jam
·
Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali
pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100
ml/jam pada anak-anak
·
Bayi prematur atau bayi baru lahir,
sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam
c.
KA-EN 3A & KA-EN 3B
Indikasi:
Indikasi:
·
Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian
air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi
harian, pada keadaan supan oral terbatas
·
Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
·
Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A
·
Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B
d.
KA-EN
MG3
Indikasi :
Indikasi :
·
Larutan rumatan nasional untuk memenuhi
kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk
mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
·
Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
·
Mensuplai kalium 20 mEq/L
·
Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400
kcal/L
e. KA-EN 4A
Indikasi :
Indikasi :
·
Merupakan larutan infus rumatan
untuk bayi dan anak
·
Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada
pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal
·
Tepat digunakan untuk dehidrasi
hipertonik
·
Komposisi (per 1000 ml):
o
Na 30 mEq/L
o
K 0 mEq/L
o
Cl 20 mEq/L
o
Laktat 10 mEq/L
o
Glukosa 40 gr/L
f. KA-EN 4B
Indikasi:
Indikasi:
·
Merupakan larutan infus rumatan
untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun
·
Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga
meminimalkan risiko hipokalemia
·
Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
·
Komposisi:
o
Na 30 mEq/L
o
K 8 mEq/L
o
Cl 28 mEq/L
o
Laktat 10 mEq/L
o
Glukosa 37,5 gr/L
g.
Otsu-NS
Indikasi:
Indikasi:
·
Untuk resusitasi
·
Kehilangan Na > Cl, misal diare
·
Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium
(asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)
h.
Otsu-RL
Indikasi:
Indikasi:
·
Resusitasi
·
Suplai ion bikarbonat
·
Asidosis metabolik
i.
MARTOS-10
Indikasi:
Indikasi:
·
Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada
penderita diabetik
·
Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen
seperti tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein
·
Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam
·
Mengandung 400 kcal/L
j.
AMIPAREN
Indikasi:
Indikasi:
·
Stres metabolik berat
·
Luka bakar
·
Infeksi berat
·
Kwasiokor
·
Pasca operasi
·
Total Parenteral Nutrition
·
Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit
k.
AMINOVEL-600
Indikasi:
Indikasi:
·
Nutrisi tambahan pada gangguan
saluran GI
·
Penderita GI yang dipuasakan
·
Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar,
trauma dan pasca operasi)
·
Stres metabolik sedang
·
Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam
(20-30 tpm)
l.
PAN-AMIN
G
Indikasi:
Indikasi:
·
Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik
ringan
·
Nitrisi dini pasca operasi
·
Tifoid
(sumber : http://yunie-nurse.blogspot.co.id/2009/03/jenis-jenis-cairan-infus.html?m=1)
DAFTAR PUSTAKA
Uliyah, M, dkk. 2012. Keterampilan Dasar Kebidanan 1Edisi 2. Surabaya. Health Books Publishing.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula.
Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Uliyah, M dan Hidayat,
AAA. 2008. Keterampilan Dasar Praktik
Klinik untuk Kebidanan. Surabaya. Penerbit Salemba Medika.
http://yunie-nurse.blogspot.co.id/2009/03/jenis-jenis-cairan-infus.html?m=1


0 komentar:
Posting Komentar