Kamis, 23 Februari 2017

Cairan Tubuh

Diposting oleh Unknown di 04.37
RESUME KETERAMPILAN DASAR
KEBIDANAN 1




DI SUSUN OLEH :

Nur Fitriani (16140015)

Kelas B 13.1
Program Studi D4 Bidan Pendidik




FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2016/2017


Resume Keterampilan Dasar Kebidanan 1
A.    Cairan tubuh
1.         Kebutuhan cairan tubuh
Kebutuhan cairan merupakan kebutuhan fisiologis yang digunakan untuk alat transportasi nutrien, elektrolit dan sisa metabolisme sebagai komponen pembentuk sel, plasma, darah dan komponen tubuh yang lainnya sebgai pengatur suhu tubuh dan seluler. Dalam pemenuhannya terdapat sistem organ tubuh yang berperan diantaranya ginjal, kulit, paru-paru dan gastrointensial.
a.       Ginjal, merupakan organ yang memiliki peran penting dalam pengaturan kebutuhan cairan dan elektrolit. Hal ini terlihat pada fungsi ginjal yakni sebagai pengaturan air, pengaturan konsenrasi garam dalam darah, pengaturan kesimbangan asam basa dalam darah, dan pengaturan ekskresi bahan buangan atau kelebihan garam.
b.      Kulit, merupakan bagian penting dalam pengaturan cairan yang terkait dengan proses pengaturan panas, proses ini diatur oleh pusat pengatur panas dan disarafi oleh vasomotorik yakni kemampuan mengendalikan arteriol kutan dengan cara penguapan yakni jumlah keringat yang dikeluarkan tergantung dengan banyakya darah yang mengalir melalui pembuluh darah dalam kulit.
c.       Paru-paru, juga memiliki peran dalam pengeluaran cairan dengan menghasilkan insensible water loss kurang 400 ml/hari, dan proses pengeluaran cairan terkait dengan respon akibat perubahan terhadap upaya kemampuan bernapas.
d.      Gastrointestial, merupakan organ saluran pencernaan yang berperan dalam mengeluarkan cairan melalui proses penyerapan dan pengeluaran air. Dalam kondisi normal cairan yang hilang dalam sistem ini sekitar 100-200 ml/hari.
Selain itu, pengaturan keseimbangan cairan dapat melalui mekanisme rasa haus yang dikontrol oleh sistem endokrin (hormonal) yakni anti diuretik hormon (ADH), sistem aldosteron, prostaglandin dan glukokortikoid.
a.       ADH, merupakan hormon yang berperan dalam peningkatan reabsorpsi air yang mampu mengendalikan keseimbangan air, hormon ini dibentuk  hipotalamus yang ada pada hipofisis posterior yang mensekresi ADH dengan peningkatan osmolaritas dan penurunan cairan ekstra sel.
b.      Aldosteron, memiliki fungsi sebagai absorpsi natrium yang disekresi oleh kelenjar adrenal di tubulus ginjal. Proses pengeluaran aldosteron ini diatur oleh adanya perubahan konsentrasi kalium, natrium dan sistem angiostensin renin.
c.       Prostaglandin, merupakan asam lemak yang terdapat pada jaringan dan berfungsi merespon radang, pada ginjal asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi ginjal sebagai respon natrium dengan pengaturan melalui pengaturan melalui pengendalian tekanan darah, kontraksi uterus dan mobilitas sistem pencernaan.
d.      Glukokortikoid, berfungsi dalam peningkatan reabsorbsi natrium dan air yang menhyebabkan volume darah meningkat sehingga terjadi retensi natrium.
Mekanisme rasa haus diatur dalam rangka memenuhi kebutuhan cairan dengan merangsang pelepasan renin. Pelepasan renin tersebut dapat menimbulkan produksi angiostensin II yang merangsang hipotalamus, sehingga menimbulkan rasa haus.
2.         Kebutuhan cairan tubuh manusia
Air tubuh total (Total body water [TBW]) bergantung pada usia, berat badan, jenis kelamin dan derajat obesitas. Kandungan ini secara perlahan berkurang seiring bertambahnya usia.
a.       Pada bayi, sekitar 80% berat badannya adalah air. Karena bayi memiliki area permukaan yang lebih besar dibandingkan berat badannya, bayi mengalami kehilangan air tak kasat mata (difusi molekul air melalui sel-sel kulit). Kebutuhan cairannya juga lebih tinggi karena pertumbuhan yang cepat dan peningkatan metabolisme yang mengakibatkan peningkatan produksi urine.
b.      Pada orang dewasa, TBW mencapai 60% BB (sekitar 40 L) laki-laki muda dan 50% BB (sekitar 30 L) pada perempuan muda
c.       Pada orang berusia 65 tahun ke atas, TBW hanya mencapai 40%-50% BB
Bayi, lansia dan orang yang obesitas sangat rentang terhadap kehilangan air. Kekurangan air (dehidrasi) dapat terjadi dengan sangat cepat selama berlangsungnya mekanisme kehilangan air seperti berkeringat, demam, diare dan muntah
Tabel. Kebutuhan air berdasarkan usia dan berat badan
Usia
Kebutuhan Air
Jumlah Air dalam 24 Jam
ml/kg Berat Badan
3 hari
1 tahun
2 tahun
4 tahun
10 tahun
14 tahun
18 tahun
Dewasa
250-300
1150-1300
1350-1500
1600-1800
2000-2500
2200-2700
2200-2700
2400-2600
80-100
120-135
115-125
100-110
70-85
50-60
40-50
20-30
Sumber: Behrman dkk, 1996
3.         Cara perpindahan cairan
a.       Difusi, merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas atau zat padat dengan bebas dan acak. Proses difusi dapat terjadi bila 2 zat bercampur dalam sel membran. Di dalam tubuh, proses proses difusi air, elektrolit dan zat-zat lain terjadi melalui membran kapiler yang permeable. Kecepatan proses difusi bervariasi tergantung pada faktor ukuran molekul, konsentrasi cairan dan temperatur cairan. Zat dengan molekul yang besar akan bergerak lambat dibanding molekul kecil. Molekul akan lebih udah berpindah dari larutan berkonsentrasi tinggi ke larutan berkonsenrasi rendah. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.
b.      Osmosis, merupakan proses perpindahan zat ke larutan lain melalui membran semi permeable, biasanya terjadi dari larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat. Solut adalah zat pelarut, sedangkan solven adalah larutannya. Air merupakan solven, sedangkan garam adalah solut. Proses osmosis ini penting dalam pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intra sel.
c.       Transpor aktif, merupakan proses perpindahan cairan tubuh menggunakan mekanisme transpor aktif. Transpor aktif adalah gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis. Proses ini terutama penting untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan ekstra sel.
4.         Faktor yang mempengaruhi cairan
a.            Usia
b.           Temperatur
c.            Diet
d.           Stres
e.            Sakit
(sumber: Dari berbagai sumber)

B.     Gangguan Keseimbangan Cairan
1.      Hipovolume atau Dehidrasi
Suatu keadaan dimana tubuh kekuarangan cairan eksternal yang terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan pengeluaran cairan. Tubuh akan merespon kekurangan cairan tubuh dengan mengosongkan cairan vaskular. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan interstial, tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengososngancairan ini terjadi pada pasien muntah dan diare. Ada 3 macam kekurangan volume cairan eksternal atau dehidrasi, yaitu :
a.       Dehidrasi isotonik, terjadi jika kehilangan sejumlah cairan dan elektrolitnya yang seimbang
b.      Dehidrasi hipertonik, terjadi jika kehilangan sejumlah air yang lebih banyak daripada elektrolitnya
c.       Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyak kehilangan elektrolitnya daripada air
Kehilangan cairan ekstrasel yang berlebihan akan menyebabkan volume ekstrasel berkurang (hipovolume). Pada keadaan ini, tidak terjadi perpindahan cairan daerah intrasel ke permukaan, sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi kekurangan cairan ekstrasel dalam waktu yang lama maka kadar urea, nitrogen, serta kreatin akan meningkat dan menyebabkan terjadinya perpindahan cairan intrasel ke pembuluh darah. Kekurangan cairan dalam tubuh dapat terjadi secara lambat atau cepat dan tidak selalu cepat diketahui. Kelebihan asupan pelarut seperti protein dan klorida/natrium akan menyebabkan kelebihan pengeluaran secara berlebihan, serta berkeringat banyak dalam waktu yang lama dan terus-menerus. Kelainan lain yang menyebabkan kelebihan pengeluaran urine adalah adanya gangguan pada hipotalamus, kelenjar gondok dan ginjal, diare, muntah yang terus-menerus, terpasang drainage, dan lain-lain
Macam-macam dehidrasi (kurang volume cairan) berdasarkan derajatnya:
a.       Dehidrasi berat
·         Pengeluaran/kehilang cairan 4-6 L
·         Serum natrium 159-166 mEq/L
·         Hipotensi
·         Turgor kulit buruk
·         Oliguria
·         Nadi dan pernapasan meningkat
·         Kehilangan mencapai > 10% BB
b.      Dehidrasi sedang
·         Kehilagan cairan 2-4 L atau antara 5-10% BB
·         Serum natrium 152-158 mEq/L
·         Mata cekung
c.       Dehidrasi ringan, dengan terjadinya kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5-2 L

2.      Hipervolume atau Overhidrasi
Terdapat 2 manifestasi yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan yaitu hipervolume (peningkatan volume darah) dan edema (kelebihan cairan pada interstisial). Normalmya cairan interstial tidak terikat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat pada jaringan. Keadaan hipervolume dapat menyebabkan pitting edema, merupakan edema yang berada pada darah perifer atau akan mencekung setelah ditekan pada daerah yang bengkak. Hal ini disebabkan karena perpindahan cairan ke jaringan melalui titik tekanan. Cairan dalam jaringan edema tidak digerakkan ke permukaan lain dengan penekanan jari. Nonpitting edema tidak menunjukkan tanda kelebihan cairan ekstrasel, tetapi sering karena infeksi dan trauma yang menyebabkan pengumpulan membekunya cairan pada permukaan cairan. Kelebihan cairan vaskular dapat meningkatkan hidrostatik cairan dan akan menekan cairan ke permukaan interstial, sehingga menyebabkan edema amasarka (edema yang terdapat di seluruh tubuh).
Peningkatan tekanan hidrostatik yang besar dapat menekan sejumlah cairan hingga ke membran kapiler paru-paru, sehingga menyebabkan edema paru-paru dan dapat menyebabkan kematian. Manifestasi edema paru-paru adalah penumpukan sputum, dispnea, batuk dan suara ronkhi. Keadaan edema ini disebkan oleh gagal jantung yang mengakibatkan peningkatan penekanan pada kapiler darah paru-paru dan perpimdahan cairan ke jaringan paru-paru.
(sumber: buku KDPK untuk kebidanan edisi 2, hal. 46-48)

C.     Gangguan Keseimbangan Elektrolit
1.      Hiponatremia
Hiponatremia merupakan suatu keadaan kekurangan kadar natrium dalam plasma darah yang ditandai dengan adanya kadar natrium plasma yang kurang dari 135mEq/L, mual, muntah dan diare. Hal tersebut menimbulkan rasa haus yang berlebihan, denyut nadi yang cepat, hipotensi, konvulsi dan membran mukosa kering.
Penyebab, yaitu kekurangan cairan yang berlebihan seperti kondisi diare yang berkepanjangan.
2.      Hipernatremia
Hipernatremia merupakan suatu keadaan dimana kadar natrium dalam plasma darah tinggi yang ditandai dengan adanya mukosa kering, oligura/anuria, turgor kulit buruk dan permukaan kulit membengkak, kulit kemerahan, lidah kering dan kemerahan, konvulsi, suhu badan naik, serta kadar natrium dalam plasma lebih dari 145 mEq/L.
Penyebab, yaitu dehidrasi, diare dan asupan air yang berlebihan sedangkan asupan garamnya sedikit.
3.      Hipokalemia
Hipokalemia adalah suatu keadaan kekurangan kadar kalium dalam darah, ditandai dengan lemahnya denyut nadi, turunnya tekanan darah, tidak nafsu makan dan muntah-muntah, perut kembung, lemah dan lunaknya otot, denyut jantung tidak beraturan (aritmia), penurunan bising usus, serta kadar kalium plasmanya menurun hingga kurang dari 3,5 mEq/L.
Penyebab, hipokalemia sering terjadi pada pasien yang mengalami diare berkepanjangan, serta dapat terjadi dengan secara cepat.
4.      Hiperkalemia
Hiperkalemia adalah suatu keadaan dimana kadar kalium dalam darah tinggi, ditandai dengan adanya mual, hiperaktivitas sistem pencernaan, aritmia, lemah, jumlah urine yang sangat sedikit, diare, adanya kecemasan dan iritabilitas (peka rangsangan), serta kadar kalium dalam plasma mencapai lebih dari 5 mEq/L.
Penyebab, keadaan ini sering terjadi pada pasien luka bakar, penyakit ginjal, asidosis metabolik, pemberian kalium yang berlebihan melalui intravena.
5.      Hipokalsemia
Hipokalsemia merupakan kekurangan kadar kalsium pada plasma darah, ditandai denga adanya kram otot dan kram perut, kejang, bingung, kadar kalsium dalam plasma darah kurang dari 4,3 mEq/L, seta kesemutan pada jari dan sekitar perut
Penyebab, pengaruh pengangkatan kelenjar gondok atau kehilangan sejumlah kalsiumkarena sekresi intestinal.
6.      Hiperkalsemia
Hiperkalsemia adalah suatu keadaan kelebihan kadar kalsium dalam darah, ditandai dengan adanya nyeri pada tulang, relaksasi otot, batu ginjal, mual-mual, koma dan kadar kalsium dalam plasma lebih dari 4,3 mEq/L.
Penyebab, terjadi pada pasien yang mengalami pengangkatan gondok dan makan vitamin D secara berlebihan.
7.      Hipomagnesia
Hipomagnesia adalah suatu keadaan kekurangan kadar magnesium dalam darah, ditandai dengan adanya iritabilitas, tremor, kram pada kaki dan tangan, takikardi, hipertensi, disorientasi dan kovulsi, serta kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,3 mEq/L
8.      Hipermagnesia
Hipermagnesia merupakan kondisi kelebihan kadar magnesium dalam darah, ditandai dengan adanya koma, gangguan pernapasan dan kadar magnesium lebih dri 2.5 mEq/L
(sumber : buku KDPK untuk Kebidanan, hal. 51-52)
D.    Gangguan Keseimbangan Asam dan Basa
1.         Asidosis, menekan aktivitas mental, Jika asidosis belebihan (pH darah dibawah 7,0) akan menyebabkan disorientasi, koma dan kematian.
a.       Asidosis respiratorik, terjadi akibat penurunan ventilasi pulmonar melalui pengeluaran sedikit karbondioksida oleh paru-paru. Peningkatan selanjutnya dalam pCO2 arteri dan asam karbonat akan meningkatkan kadar ion hidrogen dalam darah. Asidosis respiratorik dapat bersifat akut atau kronik.
Penyebab, kondisi klinis yang dapat menyebabkan retensi karbondioksida meliputi pneumonia, emfisema, obstruksi saluran pernapasan, stroke atau trauma. Obat-obatan tertentu (barbiturat, narkotik dan sedatif) atau penyalahgunaan obat akan menekan frekuensi pernapasam dan mengakibatkan asidosis respiratorik

b.      Asidosis metabolik, terjadi saat asam metabolik yang diproduksi secara normal tidak dikeluarkan pada kecepatan yang normal atau basa bikarbonat yang hilang dari tubuh.
Penyebab, Asidosis metabolik paling umum terjadi akibat ketoasidosis karena diabetes melitus atau kelaparan, akumulasi asam laktat akibat peningkatan aktivitas otot rangka seperti konvulsi atau pemyakit ginjal, diare berat dan berkepanjangan disertai hilangnya bikarbonat dapat menyebabkan asidosis

2.         Alkalosis, meningkatkan overeksitabiltas sistem saraf. Jika parah maka dapat menyebabkan kontraksi otot tetanik, konvulsi dan kematian akibat tetanus otot respirotik
a.            Alkalosis respiratorik, terjadi jika CO2 dikeluarkan terlalu cepat dari paru-paru dan ada penurunan kadarnya dalam darah
Penyebab, hiperventilasi dapat disebabkan oleh kecemasan, akibat demam, akibat pengaruh overdosis aspirin pada pusat pernapasan, akibat hipoksia karena tekanan udara yang rendah di dataran tinggi atau akibat anemia berat
b.           Alkalosis metabolik, adalah suatu kondisi kelebihan bikarbonat. Hal ini terjadi jika ada pengeluaran berlebih ion hidrogen atau peningkatan berlebih ion bikarbonatdalam cairan tubuh
Penyebab, muntah yang berkepanjangan (pengeluaran asam klorida lambung), disfungsi ginjal, pengobatan dengan diurektik yang mengakibatkan hipokalemia dan penipisan volume CES atau pemakaian antasid berlebihan dapat menyebabkan alkalosis metabolik
(sumber : buku Anataomi dan Fisiologi, hal. 341-342)
E.     Mekanisme Penanganan Gangguan Cairan, Menghitung Tetesan Infus dan Jenis Cairan Introvena

1.         Mekanisme Penanganan Gangguan Cairan
a.       Pemberian Cairan Melalui Infus
Merupakan tindakan yang dilakukan pada pasien dengan cara memasukkan cairan melalui intra vena dengan bantuan infus set, dengan tujuan memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit, sebagai tindakan pengobatan dan pemberian nutrisi parental.
Persiapan alat dan bahan
1.      Standar infus
2.      Infus set
3.      Cairan sesuai dengan kebutuhan pasien
4.      Jarum infus dengan ukuran yang sesuai
5.      Pengalas
6.      Torniket/karet pembendung
7.      Kapas alkohol
8.      Plester
9.      Guntuing
10.  Kasa steril
11.  Betadin
12.  Sarung tangan

Prosedur Pelaksanaan
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.      Hubungkan cairan dan infus set dengan menusukkan ke dalam botol infus (cairan)
4.      Isi cairan kedalam infus ke dalam infus set dengan menekan bagian ruang tetesan hingga ruangan tetesan terisi sebagian dan buka penutup hingga slang terisi dan udara slang keluar
5.      Letakkan pengalas dibawah vena yang akan dilakukan infus
6.      Lakukan pembendungan dengan torniket atau karet pembendung 10-12 cm diatas tempat penusukan dan anjuerkan pasien untuk menggenggam
7.      Gunakan sarung tanga steril
8.      Desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan kapas alkohol
9.      Lakukan penusukkan pada vena dengan posisi jarum mengarah ke atas
10.  Cek keluarnya darah melalui jarum. Apabila saat penusukkan terjadi pengeluaran darah maka tarik keluar bagian dalam jarum sambil meneruskan tusukan ke vena
11.  Setelah jarum infus bagian dalam dikeluarkan, tahan bagian atas vena dengan menekan menggunakan jari tangan agar darah tidak keluar, dan hubungkan bagian infus dengan slang infus
12.  Buka pengatur tetesan dan atur kecepatan sesuai dengan dosis yang diberikan
13.  Lakukan fiksasi dengan kaca steril
14.  Tulislah tanggal, jam pelaksanaan infus pada plester, catat ukuran, tipe jarum, jenis cairan, letak infus dan kecepatan aliran
15.  Lepaskan sarung tangan
16.  Cuci tangan

b.      Melaksanakan Tranfusi Darah
Merupakan tindakan yang dilakukan pada pasien yang membutuhkan darah dengan cara memasukkan darah melalui vena dengan menggunakan alat tarnsfusi set. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan darah dan memperbaiki perfusi jaringan.
Persiapan alat dan bahan
1.      Standar infus
2.      Tranfusi set
3.      NaCl 0,9%
4.      Darah sesuai dengan kebutuhan pasien
5.      Jarum infus/abocath atau sejenisnya dengan ukuran
6.      Pengalas
7.      Torniket/karet pembendung
8.      Kapas alkohol
9.      Plester
10.  Guntuing
11.  Kasa steril
12.  Betadin
13.  Sarung tangan
Prosedur Pelaksanaan
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.      Gunakan slang infus yang mempunyai filter (slang Y atau tunggal)
4.      Lakukan pemasangan sebagaimana prosedur infus, terlebih dahulu masukkan cairan NaCl 0,9% sebelum pemberian transfusi
5.      Periksa identifikasi kebenaran produk dara, kompatibilitas dalam kantong darah, periksa kesesuaian dengan identifikasi pasien, periksa kedaluwarsa dan periksa adanya bekuan
6.      Buka set pemberian darah, untuk slang Y atur ketiga klem, dan untuk slang tunggal klem pengatur pada posisi off
7.      Cara transfusi dengan slang Y:
a.       Lakukan penusukkan pada botol cairan berisi NaCl 0,9% dan isi slang dengan NaCl 0,9%
b.      Buka klem pengatur pada slang Y dan hubungkan ke kantong NaCl 0,9%
c.       Tutup atau klem pada slang yang tidak digunakan
d.      Tekan sisi bilik dengan ibu jari dan jari telunjuk (biarkan ruang filter terisi sebagian)
e.       Buka klem pengatur bagian bawah dan biarkan slang terisi NaCl 0,9%
f.       Kantong darah perlahan dibalik-balik 1-2 kali agar sel-selnya tercampur. Kemudian tusuk kantong darah dan buka klem pada slang dan filter terisi darah
8.        Cara transfusi dengan slang tunggal
a.       Lakukan penusukkan pada kantong darah
b.      Tekan sisi bilik dengan ibu jari dan jari telunjuk sehingga filter terisi sebagian
c.       Buka klem pengatur dan biarkan slang infus terisi darah
9.        Setelah darah masuk, pantau tanda vital tiap 5 menit selama 15 menit pertama, dan tiap 15 menit selama 1 jam berikutnya
10.    Setelah dilakukan tarnsfusi bersihkan slang dengan memasukkan cairan NaCl 0,9%
11.    Catat tipe, jumlah, komponen darah yang diberikan
12.    Cuci tangan

2.         Menghitung Tetesan Infus
a)      Text Box: Tetesan/Menit =  (Jumlahcairan yang masuk)/(Lamanya infus (jam)×3)

Dewasa : (makro dengan 20 tetes/ml)


Atau
Text Box: Tetesan/Menit =  (∑▒〖Keb.cairan ×Faktor tetesan〗)/(Lama infus (jam)×60 menit)
 




b)      Anak-anak :
Text Box: Tetesan/Menit =  (∑▒〖Keb.cairan ×Faktor tetesan〗)/(Lama infus (jam)×60 menit)

 




(sumber : buku Keterampilan Dasar Kebidanan 1, hal. 99-104)
3.         Jenis Cairan
a.            Cairan zat gizi (nutrien)
Pasien yang istirahat di tempat tidur memerlukan kalori 450 kalori setiap hari. Cairan nutrien dapat diberikan melalui intravena dalam bentuk karbohidrat, nitrogen dan vitamin untuk metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien dapat berkisar antara 200-1500 kalori per-liter. Cairan nutrien terdiri atas:
·         Karbohidrat dan air, contoh: dekstrosa (glukosa), levulosa (fruktosa) sera invert sugar (1/2 dekstrosa dan ½ levulosa)
·         Asam amino, contoh: amigen, aminosol dan travamin
·         Lemak, contoh: lipomul dan liposyn
b.           Blood volume expanders
Blood volume expanders merupakan jenis cairan yang berfungsi meningkatkan volume darah sesudah kehilangan darah atau plasma. Hal ini terjadi pada saat pasien mengalami pendarahan hebat, maka pemberian plasma akan mempertahankan volume darah. Pada pasien dengan luka bakar yang berat, sebagian besar cairan akan hilang dari pembuluh darah di daerah luka. Plasma sangat perlu diberikan untuk menggantikan cairan ini. Jenis Blood volume expanders antara lain: human serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini mempunyai tekanan osmotik, sehingga secara langsung dapat meningkatkan jumlah volume darah.
Jenis cairan intravena :
·         Cairan bisa bersifat isotonis (contohnya ; NaCl 0,9 %, Dekstrosa 5 % dalam air, Ringer laktat / RL, dll)
·         Cairan bisa bersifat hipotonis (contohnya ; NaCl 5 %)
·         Cairan bisa bersifat hipertonis (contohnya ; Dekstrosa 10 % dalam NaCl, Dektrosa 10 % dalam air, Dektrosa 20 % dalam air)
a.       ASERING
Indikasi:
Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma.
b.      KA-EN 1B
Indikasi:
·         Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)
·         < 24 jam
·         Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak
·         Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam

c.       KA-EN 3A & KA-EN 3B
Indikasi:
·         Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan supan oral terbatas
·         Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
·         Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A
·         Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B

d.      KA-EN MG3
Indikasi :
·         Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas
·         Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
·         Mensuplai kalium 20 mEq/L
·         Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L
e.       KA-EN 4A
Indikasi :
·         Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak
·         Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal
·         Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
·         Komposisi (per 1000 ml):
o   Na 30 mEq/L
o   K 0 mEq/L
o   Cl 20 mEq/L
o   Laktat 10 mEq/L
o   Glukosa 40 gr/L
f.       KA-EN 4B
Indikasi:
·         Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun
·         Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia
·         Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik
·         Komposisi:
o   Na 30 mEq/L
o   K 8 mEq/L
o   Cl 28 mEq/L
o   Laktat 10 mEq/L
o   Glukosa 37,5 gr/L
g.      Otsu-NS
Indikasi:
·         Untuk resusitasi
·         Kehilangan Na > Cl, misal diare
·         Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)
h.      Otsu-RL
Indikasi:
·         Resusitasi
·         Suplai ion bikarbonat
·         Asidosis metabolik
i.        MARTOS-10
Indikasi:
·         Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik
·         Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen seperti tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein
·         Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam
·         Mengandung 400 kcal/L
j.        AMIPAREN
Indikasi:
·         Stres metabolik berat
·         Luka bakar
·         Infeksi berat
·         Kwasiokor
·         Pasca operasi
·         Total Parenteral Nutrition
·         Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit
k.      AMINOVEL-600
Indikasi:
·         Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI
·         Penderita GI yang dipuasakan
·         Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca operasi)
·         Stres metabolik sedang
·         Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)
l.        PAN-AMIN G
Indikasi:
·         Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan
·         Nitrisi dini pasca operasi
·        Tifoid
(sumber : http://yunie-nurse.blogspot.co.id/2009/03/jenis-jenis-cairan-infus.html?m=1)




DAFTAR PUSTAKA
Uliyah, M, dkk. 2012. Keterampilan Dasar Kebidanan 1Edisi 2.  Surabaya. Health Books Publishing.
Sloane, Ethel. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Uliyah, M dan Hidayat, AAA. 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan. Surabaya. Penerbit Salemba Medika.
http://yunie-nurse.blogspot.co.id/2009/03/jenis-jenis-cairan-infus.html?m=1


0 komentar:

Posting Komentar

 

Sharing is Caring Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea