RESUME KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN
1
KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL
DI SUSUN OLEH :
Nur Fitriani (16140015)
Kelas B 13.1
Program Studi D4 Bidan Pendidik
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
RESUME KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN
1
KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL
Hak-hak pasien
Hak pasien merupakan
bagian dari hak manusia, mengingat hak merupakan tuntutan secara rasional dalam
situasi tertentu. Setiap manusia mempunyaihak untuk dihargai sebagai manusia.
Beberapa hak pasien dalam pekayanan kesehatan adalah sebagai berikut :
a.
Hak mendapatkan
kesehatan yang adil, memadai dan berkualitas.
b.
Hak untuk
diberikan informasi.
c.
Hak untuk
dilibatkan dalam pembuatan keputusan tentang pengobatan dan perawatan
d.
Hak untuk
diberikan informed consent
e.
Hak untuk
menolak suatu consent
f.
Hak untuk
mengetahui nama dan status tenaga kesehatan yang menolong.
g.
Hak untuk
mempunyai pendapat.
h.
Hak untuk
diperlakukan secara terhormat.
i.
Hak untuk
konfidentialitas memperoleh kerahasiaan termasuk privasi
j.
Hak untuk
memilih integritas tubuh
k.
Hak untuk
kompensasi terhadap cedera yang tidak legal
l.
Hak untuk
memepertahankan kemuliaan (dignitas)
(sumber: buku KDPK 1 untuk kebidanan,
hal. 120)
Konsep diri
Konsep diri berpengaruh besar dalam pemenuhan
kebutuhan dasar, konsep diri yang positif akan menghasilkan pribadi yang sehat
untuk dirinya, sedangkan konsep diri negatif akan menghasilkan pribadi yang
mudah berubah dan tidak konsisten.
Konsep
diri adalah semua ide, pikiran,
kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan
mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen,
1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi
dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman
dan objek, tujuan serta keinginannya. Sedangkan menurut Beck, Willian dan
Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang
dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual , sosial dan
spiritual.
1.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Menurut
Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari teori perkembangan,
Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self
Perception (persepsi diri sendiri), untuk lebih jelasnya mari kita baca lebih
lanjut tentang “Faktor yang mempengaruhi Konsep Diri” berikut ini:
a.
Teori perkembangan
Konsep
diri belum ada
waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai
mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya
memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui
kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan
tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan
pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta
aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.
b.
Significant Other (orang
yang terpenting atau yang terdekat)
Dimana
konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar
diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri
merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat
dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat
dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup,
pengaruh budaya dan sosialisasi.
c.
Self Perception (persepsi
diri sendiri)
Yaitu
persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi
individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat
dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep
merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan
konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi
lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan
intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat
dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu.Menurut Stuart dan
Sundeen Penilaian tentangkonsep diri dapat di lihat berdasarkan rentang respon konsep diriyaitu:
2.
Komponen tubuh
Konsep
diri terdiri dari beberapa kompenen. Kompenen konsep diri adalah, bagian-bagian
yang menyusun persepsi terhadap diri (konsep diri). komponen-komponen konsep
diri adalah sebagai berikut:
a.
Citra tubuh
Citra
tubuh adalah sikap individu terhadap tubuhnya baik disadari atau tidak disadari
meliputi persepsi masa lalu atau sekarang mengenai ukuran dan bentuk, fungsi,
penampilan dan potensi tubuh. Citra tubuh sangat dinamis karena secara konstan
berubah seiring dengan persepsi da pengalaman-pengalaman baru. Citra tubuh
harus realistis karena semakin dapat menerima dan menyukai tubuhnya individu
akan lebih bebas dan merasa aman dari kecemasan. (Suliswati, dkk, 2005).
Faktor
predisposisi gangguan citra tubuh meliputi kehilangan atau kerusakan bagian
tubuh (anatomi dan fungsi), perubahan ukuran, bentuk dan penampilan tubuh
(akibat pertumbuhan dan perkembangan serta penyakit), proses patologik penyakit
dan dampaknya terhadap struktur maupun fungsinya, prosedur pengobatan seperti
radiasi, kemoterapi dan transplantasi (Suliswati, dkk, 2005).
b.
Ideal diri
Ideal
diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya bertingkah laku
berdasarkan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang
diinginkan atau sejumlah inspirasi, tujuan, nilai yang diraih. Ideal diri akan
mewujudkan cita- cita atau pengharapan diri berdasarkan norma-norma sosial di
masyarakat tempat individu tersebut melahirkan penyesuaian diri. Seseorang yang
memiliki konsep diri yang baik tentang ideal diri apabila dirinya mampu
bertindak dan berperilaku sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya dan
sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Pembentukan
ideal diri dimulai pada masa kanak-kanak dipengaruhi oleh orang yang penting
pada dirinya yang memberikan harapan atau tuntutan tertentu. Seiring dengan
berjalannya waktu individu menginternalisasikan harapan tersebut dan akan
membentuk dasar dari ideal diri (Suliswati, dkk, 2005).
c.
Harga diri
Harga
diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis
seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Harga diri
diperoleh dari diri sendiri dan orang lain yaitu dicintai, dihormati dan
dihargai. Individu akan merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami
keberhasilan, sebaliknya individu akan merasa harga dirinya rendah bila sering
mengalami kegagalan, tidak dicintai atau diterima lingkungan. Pada masa dewasa
akhir timbul masalah harga diri karena adanya tantangan baru sehubungan dengan
pensiun, ketidakmampuan fisik, brepisah dari anak, kehilangan pasangan dan
sebagainya (Suliswati, dkk, 2005). Seseorang memiliki konsep diri yang baik
berkaitan dengan harga diri apabila mampu menunjukkan keberadaannya dibutuhkan
oleh banyak orang, dan menjadi bagian yang dihormati oleh lingkungan sekitar.
Faktor
predisposisi gangguan harga diri meliputi penolakan dari orang lain, kurang
penghargaan, pola asuh yang salah, terlalu dilarang, terlalu dikontrol, terlalu
dituruti, terlalu dituntut dan tidak konsisten, persaingan antar saudara,
kesalahan dan kegagalan yang berulang, dan tidak mampu mencapai standar yang
ditentukan (Suliswati, dkk, 2005).
d.
Peran
Peran
adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh
masyarakat dihubungkan dengan fungsi individu didalam kelompok sosialnya. Peran
memberikan sarana untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan merupakan
cara untuk menguji identitas dengan memvalidasi pada orang yang berarti
(Suliswati, dkk, 2005). Individu dikatakan mempunyai konsep diri yang baik
berkaitan dengan peran adalah adanya kemampuan untuk berperan aktif dalam
lingkungan, sekaligus menunjukkan bahwa keberadaannya sangat diperlukan oleh
lingkungan.
Faktor
predisposisi gangguan peran meliputi tiga kategori transisi peran yaitu
perkembangan. Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas.
Setiap tahap perkembangan harus dilalui individu dengan menyelesaikan tugas
perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stressor bagi peran
diri. Kedua adalah transisi situasi, yaitu transisi situasi terjadi sepanjang
daur kehidupan bertambah / berkurang orang yang berarti melalui kematian /
kelahiran. Misalnya status sendiri menjadi berdua / menjadi orang tua.
Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan
peran. Ketiga adalah transisi sehat sakit, yaitu stressor pada tubuh dapat
menyebabkan gangguan konsep diri, termasuk didalamnya gambaran diri, identitas diri,
harga diri dan peran diri (Perry & Potter, 2005).
e.
Identitas diri
Identitas
diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat diperoleh dari observasi
dan penilaian terhadap dirinya, menyadari individu bahwa dirinya berbeda dengan
orang lain. Identitas diri merupakan sintesis dari semua aspek konsep diri
sebagai suatu kesatuan yang utuh, tidak dipengaruhi oleh pencapaian tujuan,
atribut atau jabatan serta peran. Seseorang yang memiliki perasaan identitas
diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, dan tidak ada
duanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan
diri. Dalam identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan percaya diri, respek
terhadap diri, mampu menguasai diri, mengatur diri dan menerima diri
(Suliswati, dkk, 2005).
Faktor
predisposisi gangguan identitas diri meliputi ketidakpercayaan, tekanan dari
teman dan perubahan struktur sosial. Masalah spesifik sehubungan dengan konsep
diri adalah situasi yang membuat individu sulit menyesuaikan diri atau tidak
dapat menerima khususnya trauma emosi seperti penganiayaan fisik, seksual dan
psikologis pada masa anak-anak atau merasa terancam kehidupannya atau
menyaksikan kejadian berupa tindakan kejahatan (Suliswati, dkk, 2005).
3.
Hubungan sosial
Hubungan sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu proses yang asosiatif dan disosiatif.
Hubungan sosial asosiatif merupakan hubungan yang bersifat positif, artinya hubungan ini
dapat mempererat atau memperkuat jalinan atau solidaritas kelompok. Adapun hubungan
sosial disosiatif merupakan hubungan yang bersifat negatif, artinya hubungan ini dapat
merenggangkan atau menggoyahkan jalinan atau solidaritas kelompok yang telah
terbangun. Hubungan sosial asosiatif adalah proses interaksi yang cenderung menjalin kesatuan dan
meningkatkan solidaritas anggota kelompok.
Bentuk-bentuk
Hubungan Sosial Asosiatif.
a.
Kerja sama
b.
Akomodasi; dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau sebagai suatu proses. Sebagaikeadaan, akomodasi adalah suatu bentuk keseimbangan dalam interaksi antar
individu atau kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma sosial dan nilai sosial yang
berlaku. dan masalah yang terjadi dapat dilakukan.
c.
Asimilasi; adalah proses sosial yang timbul apabila ada kelompok masyarakat dengan
latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara interaktif dalam
jangka waktu lama.
d.
Akulturasi; adalah suatu keadaan diterimanya unsur-unsur
budaya asing kedalam kebudayaan sendiri.
Bentuk-Bentuk Hubungan
Sosial Disosiatif
a.
Persaingan; adalah suatu proses sosial yang dilakukan oleh individu atau kelompok
dalam usahanya mencapai keuntungan tertentu tanpa adanya ancaman atau
kekerasan dari para pelaku.
b.
Kontravensi; merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dengan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi adalah sikap mental
yang tersembunyi terhadap orang atau unsur-unsur budaya kelompok lain.
c.
Pertentangan/Perselisihan; adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok menantang pihak lawan dengan ancaman dan atau kekerasan untuk mencapai suatu
tujuan.
KESIMPULAN
1.
Konsep diri
Konsep
diri adalah semua ide, pikiran,
kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan
mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.
2.
Harga diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang
dicapai dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan
ideal dirinya.
3.
Significant other
Dimana
konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar
diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri
merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat
dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat
dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup,
pengaruh budaya dan sosialisasi.
4.
Hubungan sosial
Hubungan sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu proses yang asosiatif dan disosiatif.
Hubungan sosial asosiatif merupakan hubungan yang bersifat positif, artinya hubungan ini
dapat mempererat atau memperkuat jalinan atau solidaritas kelompok. Adapun hubungan
sosial disosiatif merupakan hubungan yang bersifat negatif, artinya hubungan ini dapat
merenggangkan atau menggoyahkan jalinan atau solidaritas kelompok yang telah
terbangun. Hubungan sosial asosiatif adalah proses interaksi yang cenderung menjalin kesatuan dan
meningkatkan solidaritas anggota kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Uliyah, M dan Hidayat,
AAA. 2008. Keterampilan Dasar Praktik
Klinik untuk Kebidanan. Surabaya. Penerbit Salemba Medika.
Ardhiyanti
Yulrina, dkk. 2015. Panduan lengkap
keterampilan daasar kebidanan. Deepublish
http://chandraandani.blogspot.co.id/2015/05/makalah-tentang-kebutuhan-psikososial.html?m=1

0 komentar:
Posting Komentar