MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN
SELAMA KEHAMILAN
KEHAMILAN EKTOPIK DAN MOLA
HIDATIDOSA
Disusun
Oleh :
1.
Restika
Lelung 16140003
2.
Maria
Aprilia Nadia B 16140005
3.
Maria
Gabriella Yohana P G 16140008
4.
Helaria
Aviana Ice 16140011
5.
Nur
Fitriani 16140015
6.
Ni Luh Gede
Adnyasuari 16140023
7.
Chlara
Melanie Triandari 16140038
8.
Kiki
Kartmianti 16140046
9.
Novyanti
Isra Mawang 16140048
10.
Dwi Ayu
Pamungkas 16140065
11.
Srigita
Dewiyana Herlyn 16140074
12.
Efriyanti 16140116
Kelompok
: 2 (dua)
Kelas : B.13.1
UNIVERSITAS
RESPATI YOGYAKARTA
FAKULTAS
ILMU KESEHATAN
PROGRAM
STUDI D-IV BIDAN PENDIDIK
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Mola Hidatidosa adalah neoplasma jinak dari sel trofoblast. Pada mola hidatidosa kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan berkembang kenjadi keadaan patologik.
Frekuensi Mola banyak ditemukan di Negara – negara asia, Afrika dan
Amerika latin dari pada di Negara – negara barat. Mola hidatidosa
merupakan penyakit wanita dalam
masa reproduksi antara umur 15 tahun sampai 45 tahun. Penyebab Mola tidak diketahui, factor – factor yang dapat
menyebabkan antar lain : keadaan sosioekonomi
yang tinggi dan parietas tinggi. Keluhan dari penderita seperti gejala – gejala hamil muda yang
kadang – kadang lebih nyata dari kehamilan biasanya.
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga
uterus, Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara
20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun,frekwensi kehamilan ektopik yang berulang
dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila tidak diatasi atau diberikan
penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi si penderita.
(Winkjosastro, 2005)
B. Rumusan
Masalah
C. Tujuan
BAB
II
PEMBAHASAN
KEHAMILAN
EKTOPIK
1. Definisi
Istilah ektopik berasal dari bahasa Inggris, ectopic, dengan akar kata dari
bahasa Yunani, topos yang berarti tempat. Jadi istilah ektopik dapat diartikan
“berada di luar tempat yang semestinya”. Apabila pada kehamilan ektopik terjadi
abortus atau pecah, dalam hal ini dapat berbahaya bagi wanita hamil tersebut
maka kehamilan ini disebut kehamilan ektopik terganggu.
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga
uterus, tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan
ektopik,sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba,jarang terjadi
implantasi pada ovarium,rongga perut,kanalis servikalis uteri,tanduk uterus
yang rudimenter dan divertikel pada uterus.(Sarwono Prawiroharjho, 2005).
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga
uterus. Tuba fallopi merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi
kehamilan ektopik (lebih besar dari 90 %). (Sarwono. 2002. Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal).
Kehamilan ektopik ialah kehamilan di tempat yang luar biasa. Tempat
kehamilan yang normal ialah di dalam cavum uteri. Kehamilan ektopik dapat
terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut, tetapi
dapat juga terjadi di dalam rahim di tempat yang luar biasa misalnya dalam
cervix, pars interstitialis tuba atau dalam tanduk rudimenter rahim. (Obstetri
Patologi. 1984. FK UNPAD).
2. Etiologi
a. Faktor
dalam Lumen Tuba
·
Endosalpingitis dapat menyebabkan perlekatan
endosalping, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu.
·
Hipoplasia uteri, lumen tuba sempit dan berkeluk-keluk
dan hal ini sering disertai gangguan fungsi silia endosalping.
·
Operasi plastik dan stenlilasi yang tidak sempurna
dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit.
b. Faktor
pada Dinding Tuba
·
Endometriosis tuba (tuba tertekuk) dapat memudahkan
implantasi telur yang dibuahi dalam tuba.
·
Divertikel tuba kongenital atau ostium
asesorius tubae dapat menahan telur yang dibuahi di tempat itu.
c. Faktor
diluar Dinding Tuba
·
Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba
dapat menghambat perjalanan telur.
·
Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan
lumen tuba.
d. Faktor
Lain
·
Migrasi luar ovum yaitu perjalanan dari ovarium kanan
ke tuba kiri atau sebaliknya dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi
ke uterus. Pertumbuhan yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi
prematur.
·
Fertilisasi in vitro ( pembuahan sel telur dalam
kondisi laboratorium, sel telur yang sudah di buahi itu kemudian ditempatkan di
dalam rahim wanita).
e. Bekas
radang pada tuba
f.
Kelainan bawaan tuba
g.
Gangguan fisiologik tuba karena pengaruh hormonal
h.
Operasi plastik/riwayat pembedahan pada tuba
i.
Abortus buatan
j.
Riwayat kehamilan ektopik yang lalu
k.
Infeksi pasca abortus
l.
Apendisitis
m.
Infeksi pelvis
n.
Alat kontrasepsi dalam rahim (IUD)
3. Tempat
Implantasi
Menurut
lokasinya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa golongan :
1. Tuba
fallopii
a. Pars
interstisialis
b. Isthmus
c. Ampulla
d. Infundibulum
e. Fimbria
2. Uterus
a. Kanalis
servikalis
b. Divertikulum
c. Kornua
d.Tanduk
rudimenter
3. Serviks
4. Ovarium
5. Intra
ligamenter
6. Abdoment
4. Gejala
Klinis
|
Kehamilan
Ektopik yang Tidak Ruptur
|
Kehamilan
Ektopik yang Ruptur
|
|
a.
Gejala
awal kehamilan (bercak-bercak atau perdarahan yang tidak teratur, perdarahan pervaginam, amenorea, mual, pembengkakan payudara, vagina dan
serviks menjadi kebiruan, perlunakan serviks, uterus sedikit membesar,
peningkatan frekuensi berkemih)
b.
Nyeri
abdomen dan panggul
|
a.
Pucat
b.
Kolaps dan
kesadaran menurun/ lemah
c.
Denyut
nasi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih)
d.
Hipotensi
e.
Syok
Hipovolemia
f.
Nyeri akut
pada abdomen dan panggul
g.
Distensi
abdomen
h.
Nyeri
tekan yang memantuk
i.
Nyeri
goyang portio
j.
Perut
kembung (adanya cairan bebas intra abdomen
k.
Ruptur
tuba
|
5. Patofisiologi
Proses implantasi ovum di tuba pada
dasarnya sama dengan yang terjadi di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi
secara kolumnar atau interkolumnar. Pada nidasi secara kolumnar telur bernidasi
pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya
dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan
direabsorbsi. Pada nidasi interkolumnar, telur bernidasi antara dua jonjot
endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup maka ovum dipisahkan dari lumen
oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis.
Karena pembentukan desidua di tuba malahan kadang-kadang sulit dilihat vili
khorealis menembus endosalping dan masuk kedalam otot-otot tuba dengan merusak
jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya tergantung dari
beberapa faktor, yaitu; tempat implantasi, tebalnya dinding tuba dan banyaknya
perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormon esterogen
dan progesteron dari korpus luteum graviditi dan tropoblas, uterus menjadi
besar dan lembek, endometrium dapat berubah menjadi desidua. Beberapa perubahan
pada endometrium yaitu; sel epitel membesar, nucleus hipertrofi, hiperkromasi,
lobuler, dan bentuknya ireguler. Polaritas menghilang dan nukleus yang abnormal
mempunyai tendensi menempati sel luminal. Sitoplasma mengalami vakuolisasi
seperti buih dan dapat juga terkadang ditemui mitosis. Perubahan endometrium
secara keseluruhan disebut sebagai reaksi Arias-Stella.
Setelah janin mati, desidua dalam
uterus mengalami degenerasi kemudian dikeluarkan secara utuh atau
berkeping-keping. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu
berasal dari uterus disebabkan pelepasan desidua yang degeneratif.
Sebagian besar kehamilan tuba
terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu. Karena tuba bukan
tempat pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh
seperti dalam uterus. Beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi adalah :
a.
Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
Pada
implantasi secara kolumna, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi
yang kurang dan dengan mudah diresobsi total.
b.
Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan
yang terjadi karena terbukanya dinding pembuluh darah oleh vili korialis pada
dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding
tersebut bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Segera setelah
perdarahan, hubungan antara plasenta serta membran terhadap dinding tuba
terpisah bila pemisahan sempurna, seluruh hasil konsepsi dikeluarkan melalui
ujung fimbrae tuba ke dalam kavum peritonium. Dalam keadaan tersebut perdarahan
berhenti dan gejala-gejala menghilang.
c.
Ruptur dinding tuba
Penyebab
utama dari ruptur tuba adalah penembusan dinding vili korialis ke dalam lapisan
muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur tuba sering terjadi bila ovum yang
dibuahi berimplantasi pada isthmus dan biasanya terjadi pada kehamilan muda.
Sebaliknya ruptur yang terjadi pada pars-intersisialis pada kehamilan lebih
lanjut. Ruptur dapat terjadi secara spontan, atau yang disebabkan trauma ringan
seperti pada koitus dan pemeriksaan vagina.
6. Diagnosis
Penegakan
diagnosis pada kehamilan ektopik belum terganggu sangat sukar, maka
memerlukan alat bantu diagnostik yaitu :
a.
Ultrasonografi
(apabila ditemukan kantong gestasi diluar uterus yang didalamnya tampak denyut
jantung janin)
b.
Laparoskopi
(hanya digunakan sebagai alat bantu diagnosti terakhir untuk kehamilan ektopik
apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain meragukan)
c.
Kuldoskopi
(cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum Douglas ada darah atau
cairan lain).
Sedangkan
penegakan diagnosis kehamilan ektopik terganggu dilakukan melalui:
a.
Anamnesis
Bisa ditemukan haid terlambat,
nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, perdarahan
pervaginam setelah nyeri perut bagian bawah.
b.
Pemeriksaan
umum
Penderita tampak kesakitan dan
pucat, pada perdarahn dalam rongga perut tanda-tanda syok dapat ditemukan.
c.
Pemeriksaan
ginekologi
Tanda-tanda kehamilan muda
mungkin ditemukan. Pergerakan serviks mungkin bisa nyeri. Bila uetrus dapat
teraba maka akan teraba sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor di
samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan.
d.
Pemeriksaan
laboratorium
Pengukuran hemaglobin, hematokrit, dan hitung lekosit serta kadar gonadotropin
kronik dan progesteron serum.
e.
Dilatasi dan
kerokan
Pada umumnya dilatasi dan kerokan untuk menunjang diagnosis kehamilan
ektopik tidak dianjurkan.
f.
Kuldosentesis
Adalah suatu cara pemeriksaan untuk apakah dalam cavum douglas ada darah
atau cairan lain. Cara ini untuk mengidentifikasi hemoperitoneum.
g.
Ultrasonografi
Ultrasonografi berguna dalam diagnostik kehamilan ektopik. Diagnostik pasti
ialah apabila ditemukan kantunng gestasi di luar uterus yang di dalanya tampak
denyut janin.
h.
Laparoskopi
Pemeriksaan bagian perut dengan bantuan LAPA-ROSCOPE (alat untuk memeriksa
rongga perut). Laparaskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostik
terakhir untuk kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostik
yang lain meragukan.
i.
β-hCG serum
kuantitatif plus sonografi
Bila kehamilan didiagnosis seorang wanita dengan hemodinamika stabil yang
dicurigai mengalami kehamilan ektopik, penatalaksanaan berikutnya didasarkan
pada nilai β-hCG serum serial dan sonografi.
j.
Kuretase
Diferensiasi antara abortus imminens atau incomplet dangan kehamilan tuba
pada banyak kasus dapat dilakukan dengan kuretase rawat jalan.
k.
Laparatomi
Tindakan lebih disukai jika wanita tersebut secara hemodinamik tidak
stabil, atau kalau tidak mungkin dilakukan laparaskopi.
(Wiknjosastro, 2005 – Cunningham, 2006)
7. Penanganan
a
Upaya
stabilisasi dengan merestorasi cairan tubuh dengan larutan kristaloid NS atau
RL (500ml dalam 15 menit pertama) atau 2 L dalam 2 jam pertama.
b
Kemoterapi.
Kriteria khusus diobati dengan cara ini kehamilan di pars ampullaris tuba belum
pecah, diameter kantung gestasi ≤ 4 cm, perdarahan dalam rongga perut ≤ 100ml,
tanda vital baik dan stabil. Obat yang digunakan metotrexate 1mg/kg IV dan
sitrovorum vactor 0,1mg/kg IM berselang-seling setiap hari selama 8 hari.
c
Kuretase.
d
Laparatomi.
Memperhatikan berbagai hal diantaranya kondisi penderita, keinginan penderita
akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi anatomik organ
pelvik, kemampuan teknik bedah micro dokter operator, dan kemampuan teknologi
fertilisasi in vitro setempat.
e
Salpingektomia.
Pada kondisi yang buruk seperti syok.
(Wiknjosastro, 2005 - Saifuddin, 2008)
MOLA
HIDATIDOSA
1. Pengertian
Mola hidatidosa adalah chorionic
villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung
kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata
ikan. Karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan.
Molahidatidosa adalah kehamilan
abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan
edematous, janin biasanya meninggal akan tetapi vilus-vilus yang membesar dan
edematous itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai
segugus sebuah anggur.
Molahidatidosa adalah kehamilan
abnormal dimana hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hidrofobik.
Molahidatidosa merupakan kehamilan yang secara genetik tidak normal yang muncul
dalam bentuk kelainan perkembangan plasenta.
Molahidatidosa adalah penyakit yang
berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon placenta dan disertai
dengan degenerasi kistik vili dan perubahan hidropik. Hamil anggur atau
molahidatidosa adalah kehamilan abnormal berupa tumor jinak yang terjadi
sebagai akibat kegagalan pembentukan “bakal janin“ sehingga terbentuk jaringan
permukaan membran (vili-vili) mirip gerombolan buah anggur.
2. Etiologi
Penyebab
molahidatidosa belum diketahui secara pasti, namun ada faktor-faktor
penyebabnya adalah :
a
Faktor ovum
Pembuahan
sel telur dimana intinya telah hilang atau tidak aktif lagi oleh sebuah sel
sperma.
b
Imunoselektif dari trofoblas
Perkembangan
molahidatidosa diperkirakan disebabkan oleh kesalahan respon imun ibu terhadap
invasi oleh trofoblas. Akibatnya vili mengalami distensi kaya nutrient.
Pembuluh darah primitive di dalam vilus tidak terbentuk dengan baik sehingga
embrio ‘ kelaparan’, mati, dan diabsorpsi, sedangkan trofoblas terus tumbuh dan
pada keadaan tertentu mengadakan invasi kejaringan ibu.
c
Usia
Faktor usia
yang dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dapat terjadi kehamilan mola.
Prekuensi molahidatidosa pada kehamilan yang terjadi pada awal atau akhir usia
subur relatif tinggi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada usia berapa pun
dalam usia subur dapat terjadi kehamilan mola.
d
Keadaan sosio-ekonomi yang rendah
Dalam masa
kehamilan keperluan akan zat-zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan janin, dengan keadaan sosial
ekonomi yang rendah maka untuk memenuhi zat-zat gizi yang diperlukan tubuh
kurang sehingga mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan
janinnya.
e
Paritas tinggi
Pada ibu
yang berparitas tinggi, cenderung beresiko terjadi kehamilan molahidatidosa
karena trauma kelahiran atau penyimpangan transmisi secara genetik yang dapat
diidentifikasikan dengan penggunaan stimulandrulasi seperti klomifen atau
menotropiris (pergonal). Namun juga tidak dapat dipungkiri pada primipara pun
dapat terjadi kehamilan molahidatidosa.
f
Defisiensi protein
Protein
adalah zat untuk membangun jaringan-jaringan bagian tubuh sehubungan dengan
pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim dan buah dada ibu, keperluan akan zat
protein pada waktu hamil sangat meningkat apabila kekurangan protein dalam
makanan mengakibatkan pertumbuhan pada janin tidak sempurna.
g
Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas
Infeksi mikroba
dapat mengenai semua orang termasuk wanita hamil. Masuk atau adanya mikroba
dalam tubuh manusia tidak selalu menimbulkan penyakit ( desease ). Hal ini
sangat tergantung dari jumlah mikroba ( kuman atau virus ) yang termasuk
virulensinya seta daya tahan tubuh.
h
Riwayat kehamilan mola sebelumnya
Kekambuhan
molahidatidosa dijumpai pada sekitar 1-2% kasus. Dalam suatu kejadian terhadap
12 penelitian yang total mencangkup hampir 5000 Kelahiran, frekwensi mola
adalah 1,3%. Dalam suatu ulasan tentang molahidatidosa berulang tapi pasangan
yang berbeda bisa disimpulkan bahwa mungkin terdapat “ masalah oosit primer “.
3. Gejala
Klinis
a
Amenorrhoe
dan tanda – tanda kehamilan
b
Perdarahan
pervaginam dari bercak sampai perdarahan
berat.
c
Uterus
sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia kehamilan.
d
Tidak
dirasakan tanda – tanda adanya gerakan janin maupun ballottement
e
Hiperemesis,
f
Preklampsi
dan eklampsi sebelum minggu ke – 24
g
Keluar
jaringan mola seperti buah anggur, yang merupakan diagnosa pasti
h
Tirotoksikosis
4. Patofisiologi
Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung – gelembung berisi
cairan jernih merupakan kista – kista kecil seperti anggur dan dapat
mengisi seluruh cavum uteri. Secara histopatologic kadang – kadang
ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Bisa juga terjadi kehamilan ganda mola adalah : satu jenis tumbuh dan yang satu lagi
menjadi mola hidatidosa. Gelembung mola besarnya
bervariasi, mulai dari yang kecil sampai yang berdiameter lebih dari 1 cm.
Mola hidatidosa terbagi
menjadi 2,yaitu :
a
Mola
Hidatidosa Sempurna
Villi korionik berubah menjadi suatu massa vesikel – vesikel jernih. Ukuran vesikel bervariasi dari yang sulit dilihat, berdiameter sampai beberapa sentimeter dan sering berkelompok – kelompok menggantung pada tangkai kecil.
Temuan Histologik ditandai oleh:
·
Degenerasi
hidrofobik dan pembengkakan Stroma Vilus
·
Tidak adanya
pembuluh darah di vilus yang membengkak
·
Proliferasi
epitel tropoblas dengan derajat bervariasi
·
Tidak adanya
janin dan amnion.
b
Mola
Hidatidosa Parsial
Apabila perubahan hidatidosa bersifat fokal dan kurang berkembang, dan
mungkin tampak sebagai jaringan janin. Terjadi perkembangan hidatidosa yang
berlangsung lambat pada sebagian villi yang biasanya avaskular, sementara villi
– villi berpembuluh lainnya dengan sirkulasi janin plasenta yang masih
berfungsi tidak terkena.
5. Diagnosis
a
Klinis
1)
Berdasarkan
anamnesis
2)
Pemeriksaan
fisik
·
Inspeksi :
muka dan kadang-kadang badan kelihatan kekuningan yang disebut muka mola (mola face)
·
Palpasi :
-
Uterus membesar
tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba lembek
-
Tidak teraba
bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin.
·
Auskultasi :
tidak terdengar bunyi denyut jantung janin
·
Pemeriksaan dalam
:
-
Memastikan
besarnya uterus
-
Uterus
terasa lembek
-
Terdapat
perdarahan dalam kanalis servikalis
b
Laboratorium
Pengukuran kadar Hormon
Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi maka uji biologik dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan positif
setelah titrasi (pengeceran) :
- Galli Mainini 1/300 (+) maka suspek molahidatidosa
c
Radiologik
-
Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin
-
USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai salju.
d
Uji Sonde (cara
Acosta-sison)
Tidak rutin
dikerjakan. Biasanya dilakukan sebagai tindakan awal
curretage.
e
Histopatologik
Dari
gelembung-gelembung yang keluar, dikirim ke Lab. Patologi
Anatomi
6. Penatalaksaan
a
Evakuasi
1)
Perbaiki keadaan
umum.
2)
- Bila mola
sudah keluar spontan dilakukan kuret atau kuret isap
- Bila Kanalis servikalis belum
terbuka dipasang laminaria dan 12 jam kemudian dilakukan kuret.
3)
Memberikan
obat-obatan Antibiotik, uterotonika.
4)
7-10 hari
setelah kerokan pertama, dilakukan kerokan ke dua untuk membersihkan sisa-sisa
jaringan.
5)
Histeriktomi
total dilakukan pada mola resiko tinggi usia lebih dari 30 tahun, Paritas 4
atau lebih, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi pusat atau lebih.
b
Pengawasan
Lanjutan
-
Ibu
dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai kontrasepsi oral
pil.
-
Mematuhi
jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun :
§ Setiap minggu pada Triwulan pertama
§ Setiap 2 minggu pada Triwulan kedua
§ Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya
§ Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap 3 bulan.
§ Setiap pemeriksaan ulang perlu diperhatikan :
a)
Gejala
Klinis : Keadaan umum, perdarahan
b)
Pemeriksaan
dalam :
o Keadaan Serviks
o Uterus bertambah kecil atau tidak
c)
Laboratorium
·
Reaksi
biologis dan imunologis :
-
1x seminggu
sampai hasil negative
-
1x2 minggu
selama Triwulan selanjutnya
-
1x sebulan
dalam 6 bulan selanjutnya
-
1x3 bulan
selama tahun berikutnya
·
Jika hasil reaksi
titer masih (+) maka harus dicurigai adanya keganasan
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Kehamilan
Ektopik
Mola hidatidosa adalah suatu bentuk
tumor jinak dari sel-sel trofoblas (yaitu bagian dari tepi sel telur yang kelak
terbentuk menjadi ari-ari janin) Hasil pembuahan yang gagal tersebut lalu
membentuk gelembung-gelembung menyerupai buah anggur. Pertumbuhan gelembung
semakin hari semakin banyak bahkan bisa berkembang secara cepat.Hal ini yang
membuat perut seorang ibu hamil dengan Molahidatidosa tampak cepat besar.
2. Mola
Hidatidosa
Sebagian
besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%) terutama
di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun
uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan
ektopik adalah penyakit radang panggul,
pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi
dalam rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya,
infertilitas, kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi. Gejala
yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung lokasi dari implantasi.
Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan vaskularisasi di tempat tersebut
dan berpotensial menimbulkan ruptur organ, terjadi perdarahan masif,
infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya angka
mortalitas dan morbiditas Ibu jika tidak mendapatkan penanganan secara tepat
dan cepat. (Marten,2009)

0 komentar:
Posting Komentar