Minggu, 19 Februari 2017

Teknik Pemberian Obat Epidural

Diposting oleh Unknown di 05.15
TUGAS KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN II
TEKNIK PEMBERIAN OBAT EPIDURAL



DI SUSUN OLEH :

Nur Fitriani (16140015)

Kelas B 13.1
Program Studi D4 Bidan Pendidik




UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
TA 2016/2017


TEKNIK PEMBERIAN OBAT EPIDURAL
Analgesia Epidural
Kebanyakan unit konsultan persalinan menyadiakan layanan epidural 24 jam yang diberikan oleh ahli anastesi obstetric yang terlatih. Pemasukan anastesi local kedalam ruang epidural di lumbal dapat memberikan efek analgesia (bebas dari nyeri) maupun anastesia (penurunan sensasi). Selain tidak merasakan nyeri kontraksi , ibu juga mengalami ketidak mampuan menggerakan kaki, berkemih secara normal, dan merasakan dorongan untuk mengejan pada kala II persalinan. Hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan dan penambahan interverfensi selama persalinan. Mengingat factor-faktor tersebut, dilakukanlah modifikasi pemberian analgesic yang tidak mempengaruhi sensasi sepenuhnya yaitu dengan mengombinasiakan pemberian spinal-epidural (combined spinal epidural)/ CSE.
A.    Pengertian Suntikan Epidural
Menjelang akhir persalinan tahap pertama dan saat persalinan tahap kedua, umumnya bantuan lebih lanjut untuk mengurangi rasa sakit dan tidak nyaman adalah anestesi atau pembiusan. Pembiusan yang populer di Indonesia adalah epidural atau painless labour. Pembiusan ini memblok rasa sakit di rahim, leher rahim, dan bagian atas vagina. Meskipun demikian, otot panggul tetap dapat melakukan gerakan rotasi kepala bayi untuk keluar melalui jalan lahir. Ibu tetap sadar dan bisa mengejan ketika diperlukan meskipun dibius
B.     Indikasi Blok Epidural
1.      Pereda nyeri atas permintaan ibu
2.      Bermanfaat saat terdapat kecenderungan persalinan dengan bantuan alat; malposisi, malpresentasi, kehamilan kembar, persalinan lama
3.      Hipertensi
4.      Persalinan praterm
C.     Kontraindikasi
Ada beberapa kontraindikasi untuk analgesa epidural/spinal
1.      Semua jenis malfungsi pembekuan darah
2.      Beberapa gangguan neurologis
3.      Deformitas spinal
4.      Sepsis lokal
D.    Cara Pembiusan
Pembiusan dilakukan oleh seorang ahli anestesi setelah klien mulai merasakan terjadinya kontraksi. Sebelumnya, klien akan disuntik melalui vena (intravena) dengan larutan khusus sebanyak 1-2 liter untuk membantu keseimbangan cairan dalam tubuh. Pemberian larutan ini akan terus berlangsung hingga proses persalinan selesai. Selanjutnya, klien disuruh untuk berbaring miring sambil menekuk/melengkungkan tubuh sedemikian rupa, sehingga ruas-ruas tulang belakang klien terbuka lebar. Caranya, pertemukan dagu dengan dada, serta dengkul klien dengan perut. Kemuklienn, obat bius akan dimasukkan menggunakan jarum suntik melalui suatu celah pada ruas tulang belakang untuk mencapai bagian yang disebut epidural. Bagian ini ada pada jalur sistem saraf pusat tulang belakang. Epidural terasa seperti es cair yang menimbulkan mati rasa pada perut klien, bawah dan kaki, dan mematikan saraf-saraf yang membawa sinyal rasa sakit dari rahim klien.
E.     Prosedur Pemasangan Blok Epidural Tradisional
Teknik ini dimodifikasi bila diberikasn sebagai CSE atau bial pemberiannya menggunakan infus kontinu.
1.      Dapat persetujuan tindakan dari ibu
2.      Anjuran ibu untuk berkemih
3.      Panggil dokter anestesi
4.      Siapkan alat:
·         Perlengkapan alat untuk intravena
·         Monitor CTG
·         Troli balutan
·         Skort dan sarung tangan steril
·         Paket balutan steril, dengan linea berlubang (duk) dan kasa
·         Losion antiseptic, biasanya klorheksidin dalam alcohol isopropyl 70%
·         Paket epidural, bias any aberisi jarum touby, spuit, slang (kateter)dan filter
·         Obat anastesi local untuk kulit dan epidural, seperti lignokain dan bupivaksin
·         Spuit dan jarum steril
·         Plester
·         Balutan plastic untuk kulit
5.      Pasang infus intravena, berikan cairan dosis pembebananuntuk mencegah hipotensi (sesuai permintaan dokter anestesi)
6.      Posisikan ibu, untuk melengkungkan spina sehingga akses diantara vertebra dapat diperoleh:
·         Miring kekiri dengan lutut ditekuk dan dagu ke dada , tetapi punggung ibu sangat dekat dengan tepi tempat tidur atau
·         Duduk ditepi tempat tidur dengan kedua kaki ditopang kursi, lengan bersandar diatas meja tempat tidur
7.      Bantu dokter anestesi memakai sarung tangan dan skort dan membuat daerah aseptic yang benar: tuangkan lotion, buka jarum dan spuit, pegang ampulanastetik local untuk diisap isinya, dll.
8.      Anjurkan ibu untuk tetap diam pada posisinya pada saat epidural dipasang oleh dokter anestesi. Selama aktivitas berlangsung dibagian punggung ibu, berikut ini adalah dukungan dan bantuan yang diperlukan:
·         Punggung ibu dibersihkan , linen berlubang dibentangkan ditempatnya dan anastetik local diinsersikan kedalam kulit
·          Jarum touby diinsersikan pada saat ibu bebas kontraksi dan sangat tenang
·         Digunakan spuit epidural (menginjeksikan udara untuk mengkaji adanya tahanan) untuk memastikan bahwa jarum touby berada ditempat yang benar
·         Kateter dimasukan ketempat tersebut dan jarumtouby dicabut.
9.      Semprotkan kulit plastic disekitar daerah tusukan dan fiksasi kateter dengan plester, bila anastetik telah siap, fiksasi filter ditempat yang mudah dijsngksu, sering kali dibahu ibu
10.  Berikan sedikit dosis uji: dosis pertama diberiksn jika dokter anestesi merasa yakin bahwa katetersudah diinsersikan dengan benar
11.  Bantu ibu keposisi yang sesuai dengan permintaan dokter anestesi selama 20 menit pertama setelah pemberian (sering kali semi-rekumber)
12.  Kaji dan catat tekanan darah dan nadi setiap 5 menit selama 20 menit  berikutnya
13.  Obsetrvasi kondisi ibu termasuk tingkat nyeri, kehangatan, keamanan, infus intravena, warna dan tanda-tanda mual
14.  Panggil dokter anestesi bila ada tanda dan gejala yang membutuhkan perhatian (hipotensi dapat diatasi dengan peningkatan kecepatan tetesan infus, tetapi dokter anestesi tetap harus dipanggil)
15.  Bereskan alat dengan benar
16.  Pantau kondisi janin, catat epidural pada gambaran CTG
17.  Bila dalam 20 menit semua hasil observasi kondisi ibu dalam keadaan normal dan tingkat analgesia telah tercapai, posisikan kembali ibu sesuai keinginannya
18.  Lanjutkan perawatan persalinan, termasuk perawatan kandung kemih dan tungkai kebas, dan buat catatan yang benar
19.  Setelah 2-8 jam lakukan observasi adanya tanda-tanda kekambuhan, berikan top-up sebelum ibu merasa tidak nyaman

F.      Top-up Epidural
Top-up Epidural diberikan jika pemberian anestesi tidak kontinu baik dalam bentuk epidural standar maupun CSE. Bidan yang telah dilatih khusus dan berada dibawah pengawasan , dapat memberikan top-up sesuai kebijakan setempat. Dokter anestesi menetapkan dosis anastetik local (konsentrasi dan jumlah), frekuensi, dan posisi ibu. Memberikan dosis dua kali setengah dengan jarak 5 menit dapat dilakukan untuk berjaga-jaga seandainya kateter bergerak ke cairan cerebrospinal. Meskipun demikian instruksi pemberiaan yang kontinu dan lambat juga harus ditulis dalam bentuk resep tertulis (May,1994).


Prosedur top-up Epidural
1.      Kaji adanya kebutuhan pemberian top-up, periksa infus intravena dan siapkan alat:
·         Obat sesuai resep
·         Jarum dan spuit steril
·         Kapas alcohol untuk penghapus kuman
2.      Posisikan ibu sesuai instruksi dokter anestetik, biasanya posisi miring pala kala I persalinan , dan duduk pada kala II
3.      Cuci tangan dan periksa keembali obat anastetik local bersama bidan lainnya dan ambil obat dengan dosis benar
4.      Bila ibu bebas dari kontraksi, buku penutup filter, desinfeksi port tersebut dengan kapas alcohol dan injeksikan obat anastetik local dengan kecepatan 5 ml/30 detik
5.      Observasi ibu untuk adanya reaksi merugikan seperti tinnitus, mengantuk dan bicara dengan tidak jelas
6.      Pasang kembali tutup filter
7.      Nadi dan tekanan diukur seperti pada pemberian awal : setiap 5 menit selama sedikitnya 20 menit
8.      Bila perlu posisikan ibu kembali
9.      Bereskan alat dengan benar
10.  Dokumentasi pemberian dan pengaaruhnya serta lakukan tindakan yang sesuai
11.  Lanjutkan observasi untuk dapat dan efek sampingnya: panggil dokter anestesi bila perlu

G.    Cara kerja Suntikan Epidural pada tubuh
Ketika pemberian bius, Tentu saja klien akan merasakan sakit yang agak menggigit saat jarum suntik menembus celah ruas tulang belakang. Bahkan ada orang yang mengalami sedikit pembengkakan pada bekas suntikan, sampai beberapa hari setelah proses persalinan selesai. Bagi klien yang operasi Caesar, seringkali timbul rasa seperti ada yang mengganjal di tulang belakang sampai beberapa minggu setelah persalinan. Rasa sakit ini akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Klien harus tetap berbaring di tempat tidur sampai saat persalinan tiba. Tapi, selama menunggu, klien diperbolehkan untuk berbaring menyamping dengan kepala lebih tinggi sekitar 30 derajat dari tubuh.
            Umumnya, 3-5 menit setelah obat disuntikkan, sistem saraf dari bagian rahim hingga jalan lahir akan mati rasa (kebas). Setelah lewat 10 menit, biasanya klien sudah akan benar-benar mati rasa pada daerah tersebut, atau hingga seluruh bagian bawah tubuh. Hal ini tidak mempengaruhi kemampuan klien dalam mengejan, klien tetap dapat mengejan dengan dibimbing dokter dan perawat yang membantu persalinan. Obat bius itu tidak menghambat proses persalinan. Hanya saja, klien tidak akan merasakan nyeri luar biasa saat kontraksi semakin keras, di menit-menit terakhir sebelum si kecil lahir. Namun, bagi klien yang kehilaRngan kemampuan untuk mengejan, dokter akan membantu menggunakan forcep atau alat vakum. Sekalipun tindakan tersebut sebenarnya menambah besarnya risiko bagi bayi, tapi bila didukung oleh keterampilan dokter, maka klien tak perlu merasakan kekhawatiran yang berlebihan.
H.    Prosedur Pelepasan Kanula Epidural
Kanula dicabut setelah epidural tidak lagi diperlukan, biasanya setelah persalinan selesai
1.      Dapatkan persetujuan tindakan dari ibu dan perhatikan privasinya
2.      Pasang sarung tangan steril, balutan tahan air dan kulit plastic pada ibu
3.      Cuci tangan, pakai sarung tangan seteril
4.      Buka plester dan minta ibu untuk membungkukan punggungnya (sama dengan posisi pada saat insersi epidural): tarik keluar kateter tersebut dengan hati-hati, tetapi cepat
5.      Pasang kulit plastic dan balutan tahan air steril
6.      Periksa kateter untuk kelengkapannya dengan mengkaji gradasi dan keadaan sekeliling ujung kateter: untuk menyakinkan kondisinya, periksa ulang oleh orang kedua
7.      Dokumentasikan pencabutan kanula dan lakukan tindakan yang sesuai

I.       Efek Samping Epidural
Obat yang digunakan dalam persalinan dengan epidural yang cukup kuat membuat mati rasa, dan biasanya melumpuhkan, dan dapat mempengaruhi tekanan darah ibu, sehingga tidak mengherankan bahwa akan ada efek samping yang signifikan bagi ibu dan bayi.
Efek samping bagi Ibu
1.      Efek samping yang paling umum dari epidural adalah penurunan tekanan darah. Efek ini hampir universal, dan biasanya di dahului dengan pemberian cairan IV sebelum memberikan epidural. Hipotensi dapat menyebabkan komplikasi mulai dari perasaan pingsan serangan jantung, 37 dan juga dapat mempengaruhi suplai darah ke bayi. Hipotensi dapat diobati dengan pemberian cairan IV lebih banyak dan, jika parah, dengan suntikan epinefrin (adrenalin).
2.      Ketidakmampuan untuk buang air kecil (dan kebutuhan untuk pemasangan kateter kencing).
3.      Gatal-gatal pada kulit (pruritus).
4.      Menggigil.
5.      Mual dan muntah.
6.      Epidurals juga dapat menyebabkan kenaikan suhu tubuh pada ibu bersalin.
7.      Dapat menyebabkan kesulitan bernapas yang tak terduga bagi ibu.
8.      Meningkatkan resiko persarahan post partum.
9.      Menyebabkan sakit kepala parah yang dapat bertahan hingga enam minggu. 

Efek samping untuk bayi
1.      Trauma persalinan.
2.      Resiko kecanduan pada masa remaja nanti.
3.      Perubahan denyut jantung janin yang dapat menyebabkan distress.
4.      Suplai oksigen berkurang akibat tekanan darah ibu yang berkurang.
5.      APGAR yang kurang.
6.      Salah satu peneliti telah mencatat sepuluh kali lipat peningkatan risiko ensefalopati baru lahir (tanda-tanda kerusakan otak) pada bayi lahir dengan ibu yang demam akibat epidural.
7.      Resiko untuk mengalami kejang pada periode baru lahir lebih tinggi, dibandingkan dengan bayi yang lahir normal.
8.      Beberapa studi terhadap kondisi bayi saat lahir, dan hampir semua bayi yang lahir setelah epidural dibandingkan dengan bayi yang lahir setelah terpapar obat opiat, yang diketahui menyebabkan kantuk dan kesulitan bernapas.
9.      Beberapa studi yang membandingkan bayi terkena epidural dengan bayi yang ibunya tidak menerima obat yang telah menemukan dampak neurobehavioral yang signifikan
Epidurals juga dapat mempengaruhi pengalaman dan keberhasilan menyusui melalui beberapa mekanisme. Pertama, bayi yang terkena epidural mungkin memiliki kelainan neurobehavioral disebabkan oleh paparan obat yang kemungkinan akan maksimal dalam beberapa jam-yang kritis waktu kelahirannya untuk inisiasi menyusui. Penelitian terakhir telah menemukan (agak jelas) bahwa semakin tinggi skor neurobehavior pada bayi baru lahir, semakin tinggi nilai mereka untuk perilaku menyusui. 

J.       Peran dan Tanggung jawab Bidan
1.         Memberi penyuluhan dan melakukan persiapan pada ibu , termasuk mendapatkan persetujuan tindakan dari ibu
2.         Mengkaji perkembangan yang dialami ibu, misalnya perkembangan persalinan
3.         Menetapkan beban kerja bidan agar ibu dapat dirawat secara ideal satu bidan untuk satu pasien setelah insersi
4.         Memposisikan ibu dengan benar dan memberi dukungan pada ibu selama pemasangan epiduraL
5.         Membantu dokter anestesi selama persiapan dan pemasangan
6.         Memberikan asuhan yang kontinu dan mengobservasi ibu dan janin
7.         Mengetahui berbagai penyimpangan dari normal, berespons dan menghubungi dokter anastesi
8.         Melatih dan kometen untuk melakukan tops-up atau perawatan kontinu
9.         Melepaskan kateter epidural dengan benar
10.     Melakukan pencatatan dengan benar.


REFERENSI

Johnson, ruth dan wendy taylor.2005. Praktek Kebidanan. EGC: Jakarta
Alimul Hidayat, A. Aziz.2006, Keterampilan Dasar Praktik Klinik Edisi 2. salemba medika widjaya grand center D7. Jakarta

0 komentar:

Posting Komentar

 

Sharing is Caring Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea